NADIKABAR.COM — Pemerintah menjalankan penanganan sampah terpadu dari hulu hingga hilir di Kota Bekasi, Jawa Barat. Langkahnya mencakup gerakan memilah sampah dari rumah, pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), dan teknologi pirolisis untuk timbunan sampah lama.
Sebelumnya, Kota Bekasi pernah menjadi sorotan dunia akibat polusi dan timbunan sampah di kawasan Bantargebang. Kini pengelolaan sampah di wilayah itu memasuki babak baru.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan persoalan sampah di Bekasi harus segera ditangani secara masif dan modern. Timbulan sampah Kota Bekasi mencapai sekitar 1.800 ton per hari dan telah masuk kategori darurat.
Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri Apel Gebrak Pilah Sampah dan groundbreaking PSEL Kota Bekasi, Rabu (26/8).
"Kita harus segera menyelesaikan persoalan ini. Kita koordinasikan agar semua bergerak cepat, tidak boleh lagi masyarakat hidup dalam lingkungan yang tercemar udara, tanah, dan air akibat sampah yang tidak terkelola," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10).
Sebelum groundbreaking, digelar Apel Gebrak Pilah Sampah yang diikuti lebih dari 2.000 orang. Gerakan ini bertujuan memperkuat kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.
Gerakan serupa telah dilakukan di Bandung Raya sekitar satu bulan sebelumnya dan diikuti sekitar 4.000 peserta.
"Memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Sampah yang sudah dipilah akan memudahkan proses selanjutnya. Kalau pemilahan dilakukan secara konsisten, volume sampah yang diangkut ke TPA akan jauh berkurang," kata Zulkifli.