Di sisi hilir, pembangunan PSEL Kota Bekasi menjadi langkah konkret untuk mempercepat penanganan kedaruratan sampah perkotaan. Fasilitas ini memakai teknologi Waste to Energy.
PSEL Kota Bekasi ditargetkan mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari, atau sekitar 70 persen sampah kota. Pengolahan tersebut juga berdampak pada penurunan emisi.
"Pengolahan sampah ini akan menurunkan emisi dari TPA sebesar 80 persen dan menciptakan 1.000 lapangan kerja. Jadi PSEL Bekasi ini mendatangkan empat manfaat, yaitu pengelolaan sampah, hasilkan energi hijau, mengurangi emisi, dan menggerakkan ekonomi lokal," tegas Zulkifli.
Groundbreaking di Bekasi merupakan kelanjutan percepatan pembangunan PSEL nasional. Pada Juli 2026, groundbreaking telah dilakukan untuk PSEL Bali dan Legoknangka, Jawa Barat.
Setelah Bekasi, pembangunan dilanjutkan dengan PSEL Bogor Raya-1. Pemerintah akan segera memiliki 13 lokasi PSEL baru, termasuk PSEL Kota Palembang yang diharapkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.
Zulkifli menegaskan PSEL bukan solusi tunggal. Jika seluruh PSEL beroperasi, kapasitasnya baru menyelesaikan sekitar 22,5 persen timbulan sampah.
Karena itu, pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber serta berbagai teknologi pengolahan tetap menjadi bagian penting strategi nasional.
Pemerintah juga menyiapkan solusi untuk timbunan sampah lama di TPA melalui teknologi pirolisis. Teknologi ini dapat mengolah timbunan tersebut menjadi bahan bakar minyak terbarukan setara solar.