"Lihat tindakannya, bukan hanya perkataannya," katanya, seraya menambahkan bahwa kontrak pada umumnya tetap dihormati di kawasan tersebut.

Sebelumnya, pada 25 Oktober, Lawrence Wong menyatakan Singapura mengharapkan seluruh pihak memenuhi kewajiban kontrak yang telah disepakati.Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pengurangan ekspor gas tidak melanggar perjanjian yang berlaku.

Indonesia mulai mengurangi ekspor gas alam ke Singapura pada 24 Oktober sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari. Jumlah tersebut setara sekitar 8% dari total ekspor gas melalui pipa ke Singapura.

Pengurangan dilakukan untuk memprioritaskan kebutuhan listrik dalam negeri, khususnya di Batam, Bintan, dan Sumatera.Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) menyebut pengurangan pasokan tersebut setara 17 miliar British thermal units per hari selama 18 hari. Jumlahnya kurang dari 2% kebutuhan gas harian Singapura.

EMA memastikan pasokan gas Singapura masih mencukupi. Importir gas juga siap mendatangkan lebih banyak gas alam cair (LNG) apabila diperlukan.Adapun kontrak impor gas Singapura dari Indonesia yang berlaku saat ini akan berakhir pada penghujung 2028.

Dalam kunjungannya ke Jakarta, Balakrishnan didampingi Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri dan Dalam Negeri Zhulkarnain Abdul Rahim serta sejumlah pejabat Kementerian Luar Negeri Singapura.

Balakrishnan mengatakan Singapura mampu menghadapi gangguan pasokan karena telah melakukan diversifikasi sumber energi dan membangun terminal LNG.

Ia juga menyinggung rencana pengembangan fasilitas penyimpanan minyak strategis bersama Arab Saudi serta kunjungan sejumlah menteri Singapura ke luar negeri untuk mengamankan pasokan kebutuhan penting.