NADIKABAR.COM — Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, ketersediaan bahan baku dengan harga kompetitif menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi industri nasional.
Menurut dia dalam Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Jumat, keterbatasan pasokan dan kesenjangan harga bahan baku masih menjadi kendala bagi sejumlah sektor industri dalam menjaga keberlangsungan produksi.
"Saya sudah menyampaikan salah satu syarat untuk meningkatkan utilisasi itu adalah jaminan ketersediaan bahan baku yang memadai," katanya.
Sarmuji mencontohkan keluhan pelaku industri yang mengalami kekurangan pasokan gula rafinasi sebanyak 15 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan produksi hingga Desember 2026.
Menindaklanjuti persoalan tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah mengomunikasikannya dengan pihak terkait agar kebutuhan bahan baku industri dapat dipenuhi sehingga kegiatan produksi tetap berjalan.
Selain gula rafinasi, persoalan ketersediaan bahan baku juga dihadapi industri bihun, khususnya terkait kesenjangan harga beras pecah antara pasar internasional dan domestik.
Harga beras pecah di pasar internasional berada pada kisaran Rp5.700-Rp6.000 per kilogram. Sementara itu, harga di dalam negeri dipatok sebesar Rp11.000 per kilogram.
Sarmuji menyampaikan, pihaknya telah mengomunikasikan persoalan tersebut dengan lembaga terkait untuk mencari solusi agar industri dapat menyerap beras dalam negeri dengan harga yang kompetitif.
Menurut dia, penyelesaian berbagai persoalan bahan baku tersebut diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi industri nasional melalui optimalisasi utilisasi fasilitas produksi yang telah tersedia.
"Dengan mencukupi hal-hal tadi itu, salah satu diantaranya bahan baku, maka utilisasi sektor industri kita akan meningkat," katanya.
Dia menegaskan, peningkatan utilisasi industri dari kapasitas produksi yang telah tersedia akan membuka ruang ekspansi lebih besar bagi industri nasional sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian.
Sebelumnya, Menperin Muhammad Sarmuji membidik peningkatan utilisasi industri hingga 80-85 persen dari posisi saat ini 66,13 persen agar memperbesar kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.
Sarmuji menyampaikan, peningkatan utilisasi menjadi salah satu peluang untuk mendorong ekspansi industri nasional, mengingat kinerja manufaktur saat ini menunjukkan tren pertumbuhan positif di tengah narasi deindustrialisasi yang berkembang.
Ia menjelaskan, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Tren tersebut juga terlihat pada 2025, ketika industri pengolahan tumbuh 5,3 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11 persen.
"Jadi ekonomi lagi tumbuh dan ini sebenarnya crossing pertama kali sejak 12 tahun yang lalu. Biasanya sektor industri itu sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi mulai 2025 akhir, sektor industri tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional," kata Sarmuji.