Mungkin secepatnya karena kebutuhan tenaga kerja yang di-layoff itu sebenarnya butuh naungan baru. Dan sayang kalau mereka nggak segera dimanfaatkan.

Kita mungkin beralih tentang investasi. Kita sering membanggakan angka-angka nilai investasi yang masuk, tapi seberapa besar nilai tambah yang benar-benar dinikmati oleh ekonomi domestik melalui pekerjaan, pemasok lokal, transfer teknologi dan keuntungan perusahaan dalam negeri belum bisa tampak terasa. Apakah Kementerian Perindustrian di bawah Pak Sarmuji memiliki indikator untuk mengukur manfaat bersih investasi bagi masyarakat Indonesia?

Ya, investasi itu memang bukan hanya soal berapa besar nilainya ya. Tentu investasi itu kita berharap output dan outcome-nya. Sampai saat ini investasi di bidang manufaktur dari data kami itu manufaktur itu sekitar 38,98% realisasi dan investasi nasional.

Tentu itu angka yang besar dan kontribusi sektor manufaktur juga sangat besar bagi sumbangsih terhadap PDB. Tidak cukup dengan itu, kita juga perlu memetakan penyerapan tenaga kerja dari sektor manufaktur.

Karena karakternya berubah ya, karakter industri kita itu berubah dan kualitas pertumbuhan ekonomi kita itu juga bergeser, tidak seperti dulu terhadap tenaga kerja misalkan.

Kalau zaman Orde Baru itu 1% pertumbuhan ekonomi itu menyerap tenaga kerja sekitar 400 ribu bahkan bisa lebih, tapi hari-hari ini kan karena karakter industri yang juga sudah berubah, penyerapan tenaga kerja per 1% pertumbuhan ekonomi itu mungkin tidak sampai 400 ribu, bahkan mungkin sekitar 300 ribu itu sudah bagus.

Hal-hal ini yang perlu kita cermati, kita perlu mendorong industri-industri yang bisa menghasilkan tenaga kerja lebih, tapi kita juga perlu mendorong sekaligus industri-industri yang memiliki daya saing yang tinggi.

Kita perlu memetakan misalkan advantage kita yang kita miliki itu apa. Tanpa advantage kita sulit untuk bersaing dengan produk di luar negeri karena efisiensi mereka kadang-kadang parah banget mereka udah jago banget lah.

Karena itu memetakan advantage itu juga bagian yang penting. Karena itu tadi kalau ada indikasi-indikasi apa yang diperlukan salah satunya tentu penyerapan tenaga kerja, daya saing industri, dan juga kemandirian kita terhadap produk-produk luar negeri. Kita ingin Indonesia lebih berdaulat lah di sektor industri kita.

Sepertinya itu yang diharapkan oleh masyarakat luas pak, bagaimana sektor industri atau manufaktur ini yang selama ini dikenal sebagai tulang punggung penciptaan lapangan kerja dibandingkan sektor lain kan tulang punggungnya ada di sektor ini, bisa mengakali, bisa mensiasati perkembangan teknologi informasi, perkembangan AI seperti itu yang mana membuat efisien sumber daya manusia itu keuntungan di satu sisi tapi kelemahan karena penciptaan lapangan kerja jadi lebih minim

Itu seperti pisau bermata dua, pisau bermata dua beneran. Jadi salah satu sisi kita harus mengadopsi itu tetapi itu ternyata mengubah karakter industri itu sendiri.

Kemudian selanjutnya ketika bapak di DPR di Komisi VI yang kala itu membidangi perindustrian bapak konsisten menyuarakan, ketika misalkan mengunjungi atau sidak ke kawasan industri, konsisten menyuarakan bahwa industri jangan hanya peduli terhadap pekerja yang ada di situ tapi harus mempedulikan harus ikut merawat masyarakat di sekitar kawasan industri. Nah ketika bapak sekarang duduk sebagai Menteri Perindustrian apa langkah-langkah yang bapak lakukan untuk bisa memastikan industri itu untuk semua kalangan Pak?

Ya kalau tentang masyarakat lokal kemarin satu contoh ya kemarin kita ke JIIPE, di kawasan industri yang banyak sekali jenis-jenis industri berada di situ. Kami menekankan supaya menyerap lapangan kerja terutama masyarakat lokal ya.

Tetapi tantangannya memang harus ada timbal balik. Industri oke mereka setengah diwajibkan untuk menyerap lapangan kerja dari masyarakat lokal. Tapi tentu pemerintah daerah juga harus berjuang keras juga untuk menyediakan tenaga kerja yang match dengan industri yang ada di sekitar situ.

Karena kalau nggak kan nggak mungkin industri dipaksa tapi ternyata tenaga kerjanya nggak match dengan yang dibutuhkan gitu. Jadi dunia pendidikan juga harus terlibat, vokasi-vokasi di daerah itu juga harus tumbuh untuk menyesuaikan dengan jenis industri yang ada di daerah itu. Dengan demikian industri tidak akan keberatan kalau mau menyerap tenaga kerja terutama dari lokal.

Jadi harus ada sinergi kedua belah pihak pak ya, industri dan juga Pemda dan juga SDM?

Ya dan Alhamdulillah misalnya di Gresik kemarin ada satu industri kaca ya itu bisa menyerap 70% warga lokal karena tenaga kerjanya juga siap.

Pak Sarmuji ketika di Dewan juga dulu seringkali menyuarakan perlindungan terhadap industri lokal dari gempuran produk impor gitu. Tapi disisi lain ya mungkin secara masyarakat kita juga pak ya lebih banyak yang lebih memilih produk impor karena dianggap lebih murah mungkin kualitasnya ya bisa dibicarakan lah itu. Nah bagaimana pak agar produk impor ini bisa di kalahkan dalam tanda kutip seperti itu, bagaimana agar produk lokal kita bisa kompetitif?

Ya kami tentu begini ya, kami tentu bangga dengan produk di dalam negeri pasti akan kita teruskan ya. Kita lagi rancang misalkan ada menggabungkan hobi saat ini run dengan promosi produk di dalam negeri made in Indonesia dan sebagainya.

Tetapi mempromosikan produk di dalam negeri itu juga harus match dengan kualitas produknya. Kita tidak ingin orang pakai produk kita hanya karena rasa nasionalisme belaka, sementara produknya sendiri kualitasnya kurang bagus misalkan itu.

Nah tentu kita harus mengupayakan agar industri kita misalkan harus memiliki struktur biaya yang lebih efisien. Terus pasokan dari dalam negeri menjadi lebih terjamin, kualitas bahan bakunya juga harus memadai ,Teknologinya harus lebih update.

Dan yang paling penting tadi itu juga sempat kita singgung adalah bagaimana sumber daya manusianya tenaga kerjanya juga adaptif terhadap perkembangan zaman, perkembangan teknologi, tentu ini membutuhkan langkah-langkah yang sinergi dengan beberapa stakeholder yang lain.

Nah sinergi dengan beberapa stakeholder pak mungkin itu hal yang sering diucapkan beberapa pejabat, tapi ya hasilnya mohon maaf menurut catatan kami ya mungkin normatif gitu. Nah mengingat pak Sarmuji ini ya bisa dibilang bukan sembarang menteri tapi pak Sarmuji ini juga menduduki posisi yang sangat prestisius sebagai Sekjen Golkar. Satu dari dua partai yang memiliki kursi di atas seratus di DPR, dua besar lah pemenang pemilu 2024. Apakah bapak juga akan memerankan itu untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak lain, mengingat ada kerumitan-kerumitan tertentu pastinya.

Iya, saat ini pun sudah kami lakukan ya. Satu contoh misalkan tentang kesulitan bahan baku bagi industri makanan bihun misalkan, karena ada tuntutan juga kalau bisa jangan kita impor bahan baku. Padahal kenyataannya bahan baku yang dibutuhkan beras pecah misalkan itetu harga impor itu Rp 5.700.

Mungkin kalau ada kenaikan dolar mungkin ya maksimal Rp 6.000 per kilogram. Sementara kalau kita pakai beras dalam negeri yang tersedia di Bulog teman-teman mematok angka Rp 11.000. Kalau dipaksakan Rp 11.000, industri mengambil dari beras Bulog Rp 11.000, tentu industri nggak akan kompetitif.

Kalau industri nggak kompetitif ya bisa dibayangkan kita nggak impor bahan baku lagi tapi justru kita mengimpor bahan jadi. Kita akan mengimpor bihun bahan jadi yang itu berarti akan terjadi pengurangan tenaga kerja yang seharusnya itu kalau diproduksi di dalam negeri itu menambah lapangan kerja.

Karena itu kami berkoordinasi dengan Kementan, kami sudah ketemu Kementan, dan prinsipnya bisa dipahami, perjuangan kami untuk bisa mendapatkan bahan baku industri dengan harga yang kompetitif bisa dipahami.