Apalagi selama ini kan ada pemahaman bahwa kita swasembada pangan, beras di Bulog melimpah. Kalau beras Bulog melimpah di gudang cepat atau lambat itu kualitas berasnya akan menurun terus dan suatu saat bisa mendekati angka 0.
Kami sampaikan ke Kementerian Pertanian, daripada nanti 0 karena harus membuang beras itu tentu kami bisa ambil dengan harga industri. Cuma ada problem lagi, problem lagi adalah BPK kan menaksir itu harga beras itu Rp 11.000. Tapi tentu itu harga beras dengan kualitas yang awal, bukan menurun juga.
Kami akan koordinasikan kebetulan beliau lagi di luar negeri ya bagian urusan perberasan di BPK. Nanti kalau datang kami akan koordinasi supaya kita bisa mendapatkan harga beras yang kompetitif, beras pecah untuk industri tanpa harus impor karena beras kita melimpah.
Kemudian Pak sekarang ini sektor industri manufaktur menyumbang Sekitar 19% untuk PDB. Dan Pak Sarmuji beberapa waktu yang lalu menyatakan dorongan agar sektor ini bisa menyumbang sampai 20-25% untuk dalam waktu dekat ini,
Nggak dalam waktu dekat juga, kalau 25% harus agak panjang. Kalau 20% mungkin bisa kita rencanakan ya 2 tahun mungkin bisa. Karena 1% itu udah tinggi
Apa kiat-kiat yang akan dilakukan untuk meningkatkan hingga dari 20% kemudian 25%, mengingat sektor manufaktur ini kan benar-benar diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja.
Ya kita tadi kita harus menciptakan ekosistem yang bagus ya, mereka agar mau investasi di sektor manufaktur harus tumbuh. Itu membutuhkan kerjasama dengan lagi-lagi dengan kementerian lain apakah mereka bisa mendapatkan insentif yang memadai untuk bisa datang ke Indonesia.
Negara lain memberikan insentif yang kuat ya, baik dari perpajakan, custom, terus kemudahan berusaha, perizinan yang baik dan lain sebagainya. Tentu itu harus kita imbangi, kemudahan-kemudahan itu harus kita imbangi, insentif itu harus kita berikan.
Kalau nggak, ya mana orang mau datang ke Indonesia. Yang lain memberikan karpet merah yang luar biasa, mungkin karpet bludru, kita hanya memberikan tikar, ya nggak mau mereka.
Yang kedua kita akan kembangkan kawasan industri baru yang mungkin tematik, khususnya yang tematik ya misalkan. Dan ini mendekati bahan baku. Misalkan kita perlu membuka kawasan industri terutama di luar Jawa, di Kalbar, tema bauksit, dan lain sebagainya.
Ada yang sekarang lagi kita bicarakan sangat serius misalkan tembaga di Maluku, ini bukan hanya akan mendatangkan investasi ke dalam negeri di sektor manufaktur, tetapi juga bisa meratakan pembangunan kita, terutama kalau kita lakukan di luar Jawa. Jadi insentif dan konsentrasi kita untuk menumbuhkan kawasan industri itu menurut saya penting untuk kita lakukan.
Berkaitan dengan industri dalam konteks kekinian, Pak Menteri beberapa waktu yang lalu menyampaikan bahwa transformasi menuju industri hijau bukan sekadar kewajiban lingkungan tapi peluang menuju ekonomi baru. Mungkin itu bisa dijelaskan dan breakdownnya itu seperti apa?
Kebetulan gini, kami kemarin ke Petro untuk meninjau fasilitas teknologi carbon capture and utilization. Di situ carbon itu ditangkap lalu menghasilkan produk sampingan yang bagus.
Jadi kami akan dorong supaya ekonomi hijau ini bukan menjadi unit cost, bukan menjadi cost center, tetapi juga menjadi profit center, sekurang-kurangnya benefit center. Dan ini bisa kita lakukan ternyata dengan teknologi yang kemarin diterapkan di Petrokimia, ada prototipe yang bisa kita kembangkan.
Ada hasil yang cukup bagus produknya adalah soda ash, dan kebetulan soda ash ini belum banyak diproduksi di dalam negeri. Produksi kaca yang juga di JIIPE itu, itu dia bahan bakunya 80% dalam negeri kecuali satu, soda ash.
Jadi di situ saja menggunakan satu teknologi saja itu bisa menjawab, ada offtaker-nya langsung, ada offtaker. Seandainya itu diterapkan CCU itu diterapkan lalu produk sampingannya adalah soda ash, yang nampung sudah ada me-match ini juga satu pekerjaan yang harus kita lakukan.
Dan kita harus yakinkan tadi bahwa ekonomi hijau ini tidak semata-mata dan tidak selalu dipersepsikan sebagai unit cost atau cost center, tetapi juga bisa menjadi profit center.
Berkaitan dengan TKDN, bapak menyampaikan TKDN ini sebagai instrumen kemandirian. Tapi di sisi lain ada juga kalangan pengusaha yang menyampaikan TKDN ini bisa malah menjadi tambahan biaya seperti itu jika mungkin tidak dikelola dengan baik. Mungkin Bapak memiliki pandangan bagaimana TKDN ini supaya tidak menjadi tambahan cost untuk pengusaha manufaktur?
TKDN itu penting karena dengan TKDN itu industri dalam negeri tumbuh. Dengan TKDN itu kemudian ada transfer teknologi juga bisa dilakukan. Dengan TKDN itu juga penyerapan tenaga kerja menjadi lebih banyak. Kalau semuanya impor ya apa yang bisa kita perbuat di dalam negeri.
Apalagi kalau itu barang atau bahan baku yang sudah bisa diproduksi dalam negeri. Bagi kami itu ya wajib untuk bisa diambil bagi produksi dalam negeri. Cuma tentu saja kita harus adil untuk mau, kandungan TKDN tinggi kita pertama harus berikan insentif, ya dengan berbagai cara ya, insentifnya dengan berbagai jenis.
Kedua kita juga harus memberikan kemudahan. Kemudian sertifikasinya harus kita permudah, lalu menyederhanakan perizinan dan lain sebagainya. Itu bagian tak terpisahkan dari usaha kita untuk bisa menerapkan TKDN secara maksimal.
Lalu ada juga kecepatan kita, kecepatan juga harus kita lakukan supaya pengurusan TKDN itu menjadi lebih cepat dan ini menjadi bagian tambahan dari daya saing kita terhadap TKDN kita.
Dalam perjalanan politik pak Sarmuji tentu ada keputusan yang menuntut kompromi dengan berbagai kepentingan lah gitu. Misalkan nanti ada kepentingan investor besar bertentangan dengan keberlanjutan industri lokal, posisi mana kira-kira Pak Sarmuji akan ambil?
Sebenarnya ini nggak harus dihadap-hadapkan secara face to face ya, karena gini karena investor besar visi kami justru harus menumbuhkan industri yang ada di sekitarnya. Misalkan tentang hilirisasi, itu bagi kami bukan hanya menghasilkan satu produk turunan saja.
Itu bisa menghasilkan produk-produk yang lain, bahkan bukan hanya produk yang linear saja. Tetapi juga bisa menghasilkan ekosistem baru yang tumbuh di situ. Saya meyakini kalau kita bisa melakukan sinkronisasi tidak perlu dihadap-hadapkan antara investor besar dengan industri lokal yang tumbuh di situ.
Justru masing-masing bisa menjadi penyangga satu dengan yang lain, bisa dikolaborasikan. Ini jawaban khas politisi, tapi ini beneran. Meskipun ini jawaban khas politisi ini sesuatu yang kita lakukan.