NADIKABAR.COM — Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan pentingnya sektor manufaktur sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus pencipta lapangan kerja. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah menyiapkan berbagai langkah pembenahan, di antaranya terkait penyederhanaan perizinan hingga peningkatan daya saing industri.

Sarmuji juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi industri nasional, termasuk persaingan dengan produk impor, kebutuhan modernisasi mesin produksi, hingga perubahan karakter industri akibat perkembangan teknologi.

Di sisi lain, pemerintah berupaya meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) dari sekitar 19% menjadi 20% dalam dua tahun mendatang. Dalam jangka panjang kontribusi industri terhadap PDB bahkan ditargetkan meningkat menjadi 25%.

Dalam wawancara eksklusif bersama NadiKabar, Sarmuji membeberkan berbagai strategi untuk memperkuat industri nasional, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, hingga mendorong investasi manufaktur. Berikut wawancara lengkap Sarmuji membahas masa depan industri Indonesia.

Berkaitan dengan sektor perindustrian yang sekarang kementeriannya bapak pimpin, apa target 100 hari ke depan yang bisa disampaikan? Apalagi mengingat Bapak menyampaikan sektor manufaktur ini supaya bisa menjadi leverage, daya ungkit bagi perekonomian Indonesia?

Ya, memang saya menyatakan beberapa kali ya, dan memang faktanya begitu, bahwa sektor industri itu memang menjadi leverage dan akan terus menjadi leverage bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja.

Tentang 100 hari, tentu saya ini Menteri baru tapi periodisasinya kan mengikuti periodisasi yang ada. Karena itu menargetkan 100 hari awal atau periodisasi waktu tertentu tentu bukan sesuatu yang tepat.

Kami akan lebih fokus pada pembenahan dan perbaikan dan perubahan-perubahan yang diperlukan terutama untuk menciptakan ekosistem perindustrian yang baik. Tentu ini bukan sesuatu yang mudah untuk menciptakan ekosistem yang mendukung.

Tapi kami sudah sisir satu per satu dan ada banyak hal yang mesti kami lakukan, di antaranya adalah tentang perizinan. Hari ini pun kami kumpulkan lagi dengan satu topik bahasan.

Eselon I presentasi, tentu eselon I sudah mengumpulkan data-data dari eselon II tentang persoalan-persoalan di bidang perizinan agar kita bisa memberikan kemudahan bagi industri untuk mengurus perizinan.

Karena kecepatan itu menjadi satu faktor yang penting. Kami juga minta kepada jajaran ASN di Kementerian Perindustrian untuk memasukkan mindset industrialis ke dalam mindset birokrasi.

Mindset birokrasi lebih cenderung prosedural, sementara mindset industrialis adalah terobosan, kecepatan. Jadi dua mindset yang harus kita gabungkan karena ini sesuatu yang khusus bukan seperti kementerian lain, ini menangani sektor industri yang membutuhkan kecepatan.

Tanpa kecepatan kita tidak akan bisa bersaing dan kecepatan adalah saat ini menjadi faktor utama bagi daya saing sebuah industri.

Kalau tentang sektor industri sendiri kita tahu industri TPT, industri tekstil dan produk tekstil sedang mengalami tantangan, baik itu karena bisa dibilang banjir produk impor maupun berkaitan dengan usangnya alat-alat yang ada di industri hulu dan antara.Seperti apa langkah yang bisa dilakukan Kemenperin?

Sebenarnya sektor tekstil dan alas kaki ini secara umum pertumbuhannya masih baik, secara umum pertumbuhannya masih 6% lebih dan itu menunjukkan sektor ini bisa menjadi tumpuan bagi industri untuk tumbuh lebih besar lagi.

Cuman memang tantangannya ada. Tantangan kita ada pada mesin-mesin yang lama ya. Kenapa ada beberapa pabrik yang tutup itu juga barangkali karena mesin-mesin produksinya itu tidak di-up, tidak segera diperbaharui.

Dan ada beberapa tantangan lagi yang mungkin harus juga segera dijawab oleh dunia industri bidang pertekstilan, menyesuaikan dengan selera pasar itu juga menjadi bagian penting. Komposisi warna, tren, motif dan sebagainya itu menjadi bagian yang harus mulai diadopsi oleh industri-industri garment dan tekstil.

Di bidang alas kaki, tantangannya tentu saja produktivitas. Kita masih sangat kuat di alas kaki, tapi kita tentu tidak ingin berpuas diri di stagnan di sisi itu, tapi kita juga perlu meningkatkan produktivitas pekerjaan juga menyesuaikan dengan selera pasar.

Sebenarnya ini ada perkembangan baru yang bagus ya, contoh kecil misalkan ada sepatu kita yang di luar negeri itu ternyata disukai sekali. Di Jepang ada merek yang mungkin tidak terlalu familiar di kita, mereknya itu Jalan Sriwijaya. Di Jepang ada merek Jalan Sriwijaya tapi di kita mereknya berbeda.

Jadi sebenarnya di dalam negeri juga produksi tapi di luar negeri mereknya merek Jalan Sriwijaya. Di Jepang sangat diminati oleh orang-orang Jepang. Di dalam negeri tidak pakai merek Jalan Sriwijaya, pakai nama lain.

Dari sisi itu saja kita bisa membayangkan bahwa kita mampu memproduksi sesuatu yang diminati di luar negeri. Kita tidak boleh hanya penjahit saja mereknya merek orang luar, kita menjahit saja, itu bagus kita memproduksi di dalam negeri bagus meskipun itu mereknya luar.

Tapi andaikan kita bisa menyesuaikan dengan desain, selera dan kebutuhan masyarakat internasional tentu itu jauh lebih baik lagi.

Masih berkaitan dengan upaya menumbuh kembangkan sektor manufaktur dan industri, beberapa waktu yang lalu kita dengar ada inisiasi berkaitan dengan BUMN Tekstil, ini inisiasi antara Kemenperin dan Danantara, bisa dijelaskan tentang itu?

Kami sudah koordinasi dengan Danantara. Danantara menginvestasikan cukup besar untuk pabrik tekstil, produksi tekstil ini, mungkin sekitar Rp 100 triliun, angka yang sangat besar. Dan mengambil beberapa pabrik ya, beberapa pabrik diambil sekaligus.

Tentu kami berharap masing-masing pabrik ini kan sebenarnya punya keunggulan tersendiri. Keunggulan-keunggulan itu bisa digabungkan, bisa disinergikan menjadi keunggulan yang lebih besar lagi.

Supaya begitu berdiri industri tekstil yang diinisiasi oleh Danantara itu sudah langsung dengan keunggulan yang sangat kompetitif. Dengan cara tadi, mengambil keunggulan-keunggulan beberapa pabrik yang kemudian digabungkan secara bersama-sama.

Jadi kita tunggu hasilnya, ada kira-kira kapan ini BUMN tekstil akan diluncurkan?

Mungkin secepatnya karena kebutuhan tenaga kerja yang di-layoff itu sebenarnya butuh naungan baru. Dan sayang kalau mereka nggak segera dimanfaatkan.

Kita mungkin beralih tentang investasi. Kita sering membanggakan angka-angka nilai investasi yang masuk, tapi seberapa besar nilai tambah yang benar-benar dinikmati oleh ekonomi domestik melalui pekerjaan, pemasok lokal, transfer teknologi dan keuntungan perusahaan dalam negeri belum bisa tampak terasa. Apakah Kementerian Perindustrian di bawah Pak Sarmuji memiliki indikator untuk mengukur manfaat bersih investasi bagi masyarakat Indonesia?

Ya, investasi itu memang bukan hanya soal berapa besar nilainya ya. Tentu investasi itu kita berharap output dan outcome-nya. Sampai saat ini investasi di bidang manufaktur dari data kami itu manufaktur itu sekitar 38,98% realisasi dan investasi nasional.

Tentu itu angka yang besar dan kontribusi sektor manufaktur juga sangat besar bagi sumbangsih terhadap PDB. Tidak cukup dengan itu, kita juga perlu memetakan penyerapan tenaga kerja dari sektor manufaktur.

Karena karakternya berubah ya, karakter industri kita itu berubah dan kualitas pertumbuhan ekonomi kita itu juga bergeser, tidak seperti dulu terhadap tenaga kerja misalkan.

Kalau zaman Orde Baru itu 1% pertumbuhan ekonomi itu menyerap tenaga kerja sekitar 400 ribu bahkan bisa lebih, tapi hari-hari ini kan karena karakter industri yang juga sudah berubah, penyerapan tenaga kerja per 1% pertumbuhan ekonomi itu mungkin tidak sampai 400 ribu, bahkan mungkin sekitar 300 ribu itu sudah bagus.

Hal-hal ini yang perlu kita cermati, kita perlu mendorong industri-industri yang bisa menghasilkan tenaga kerja lebih, tapi kita juga perlu mendorong sekaligus industri-industri yang memiliki daya saing yang tinggi.

Kita perlu memetakan misalkan advantage kita yang kita miliki itu apa. Tanpa advantage kita sulit untuk bersaing dengan produk di luar negeri karena efisiensi mereka kadang-kadang parah banget mereka udah jago banget lah.

Karena itu memetakan advantage itu juga bagian yang penting. Karena itu tadi kalau ada indikasi-indikasi apa yang diperlukan salah satunya tentu penyerapan tenaga kerja, daya saing industri, dan juga kemandirian kita terhadap produk-produk luar negeri. Kita ingin Indonesia lebih berdaulat lah di sektor industri kita.

Sepertinya itu yang diharapkan oleh masyarakat luas pak, bagaimana sektor industri atau manufaktur ini yang selama ini dikenal sebagai tulang punggung penciptaan lapangan kerja dibandingkan sektor lain kan tulang punggungnya ada di sektor ini, bisa mengakali, bisa mensiasati perkembangan teknologi informasi, perkembangan AI seperti itu yang mana membuat efisien sumber daya manusia itu keuntungan di satu sisi tapi kelemahan karena penciptaan lapangan kerja jadi lebih minim

Itu seperti pisau bermata dua, pisau bermata dua beneran. Jadi salah satu sisi kita harus mengadopsi itu tetapi itu ternyata mengubah karakter industri itu sendiri.

Kemudian selanjutnya ketika bapak di DPR di Komisi VI yang kala itu membidangi perindustrian bapak konsisten menyuarakan, ketika misalkan mengunjungi atau sidak ke kawasan industri, konsisten menyuarakan bahwa industri jangan hanya peduli terhadap pekerja yang ada di situ tapi harus mempedulikan harus ikut merawat masyarakat di sekitar kawasan industri. Nah ketika bapak sekarang duduk sebagai Menteri Perindustrian apa langkah-langkah yang bapak lakukan untuk bisa memastikan industri itu untuk semua kalangan Pak?

Ya kalau tentang masyarakat lokal kemarin satu contoh ya kemarin kita ke JIIPE, di kawasan industri yang banyak sekali jenis-jenis industri berada di situ. Kami menekankan supaya menyerap lapangan kerja terutama masyarakat lokal ya.

Tetapi tantangannya memang harus ada timbal balik. Industri oke mereka setengah diwajibkan untuk menyerap lapangan kerja dari masyarakat lokal. Tapi tentu pemerintah daerah juga harus berjuang keras juga untuk menyediakan tenaga kerja yang match dengan industri yang ada di sekitar situ.

Karena kalau nggak kan nggak mungkin industri dipaksa tapi ternyata tenaga kerjanya nggak match dengan yang dibutuhkan gitu. Jadi dunia pendidikan juga harus terlibat, vokasi-vokasi di daerah itu juga harus tumbuh untuk menyesuaikan dengan jenis industri yang ada di daerah itu. Dengan demikian industri tidak akan keberatan kalau mau menyerap tenaga kerja terutama dari lokal.

Jadi harus ada sinergi kedua belah pihak pak ya, industri dan juga Pemda dan juga SDM?

Ya dan Alhamdulillah misalnya di Gresik kemarin ada satu industri kaca ya itu bisa menyerap 70% warga lokal karena tenaga kerjanya juga siap.

Pak Sarmuji ketika di Dewan juga dulu seringkali menyuarakan perlindungan terhadap industri lokal dari gempuran produk impor gitu. Tapi disisi lain ya mungkin secara masyarakat kita juga pak ya lebih banyak yang lebih memilih produk impor karena dianggap lebih murah mungkin kualitasnya ya bisa dibicarakan lah itu. Nah bagaimana pak agar produk impor ini bisa di kalahkan dalam tanda kutip seperti itu, bagaimana agar produk lokal kita bisa kompetitif?

Ya kami tentu begini ya, kami tentu bangga dengan produk di dalam negeri pasti akan kita teruskan ya. Kita lagi rancang misalkan ada menggabungkan hobi saat ini run dengan promosi produk di dalam negeri made in Indonesia dan sebagainya.

Tetapi mempromosikan produk di dalam negeri itu juga harus match dengan kualitas produknya. Kita tidak ingin orang pakai produk kita hanya karena rasa nasionalisme belaka, sementara produknya sendiri kualitasnya kurang bagus misalkan itu.

Nah tentu kita harus mengupayakan agar industri kita misalkan harus memiliki struktur biaya yang lebih efisien. Terus pasokan dari dalam negeri menjadi lebih terjamin, kualitas bahan bakunya juga harus memadai ,Teknologinya harus lebih update.

Dan yang paling penting tadi itu juga sempat kita singgung adalah bagaimana sumber daya manusianya tenaga kerjanya juga adaptif terhadap perkembangan zaman, perkembangan teknologi, tentu ini membutuhkan langkah-langkah yang sinergi dengan beberapa stakeholder yang lain.

Nah sinergi dengan beberapa stakeholder pak mungkin itu hal yang sering diucapkan beberapa pejabat, tapi ya hasilnya mohon maaf menurut catatan kami ya mungkin normatif gitu. Nah mengingat pak Sarmuji ini ya bisa dibilang bukan sembarang menteri tapi pak Sarmuji ini juga menduduki posisi yang sangat prestisius sebagai Sekjen Golkar. Satu dari dua partai yang memiliki kursi di atas seratus di DPR, dua besar lah pemenang pemilu 2024. Apakah bapak juga akan memerankan itu untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak lain, mengingat ada kerumitan-kerumitan tertentu pastinya.

Iya, saat ini pun sudah kami lakukan ya. Satu contoh misalkan tentang kesulitan bahan baku bagi industri makanan bihun misalkan, karena ada tuntutan juga kalau bisa jangan kita impor bahan baku. Padahal kenyataannya bahan baku yang dibutuhkan beras pecah misalkan itetu harga impor itu Rp 5.700.

Mungkin kalau ada kenaikan dolar mungkin ya maksimal Rp 6.000 per kilogram. Sementara kalau kita pakai beras dalam negeri yang tersedia di Bulog teman-teman mematok angka Rp 11.000. Kalau dipaksakan Rp 11.000, industri mengambil dari beras Bulog Rp 11.000, tentu industri nggak akan kompetitif.

Kalau industri nggak kompetitif ya bisa dibayangkan kita nggak impor bahan baku lagi tapi justru kita mengimpor bahan jadi. Kita akan mengimpor bihun bahan jadi yang itu berarti akan terjadi pengurangan tenaga kerja yang seharusnya itu kalau diproduksi di dalam negeri itu menambah lapangan kerja.

Karena itu kami berkoordinasi dengan Kementan, kami sudah ketemu Kementan, dan prinsipnya bisa dipahami, perjuangan kami untuk bisa mendapatkan bahan baku industri dengan harga yang kompetitif bisa dipahami.

Apalagi selama ini kan ada pemahaman bahwa kita swasembada pangan, beras di Bulog melimpah. Kalau beras Bulog melimpah di gudang cepat atau lambat itu kualitas berasnya akan menurun terus dan suatu saat bisa mendekati angka 0.

Kami sampaikan ke Kementerian Pertanian, daripada nanti 0 karena harus membuang beras itu tentu kami bisa ambil dengan harga industri. Cuma ada problem lagi, problem lagi adalah BPK kan menaksir itu harga beras itu Rp 11.000. Tapi tentu itu harga beras dengan kualitas yang awal, bukan menurun juga.

Kami akan koordinasikan kebetulan beliau lagi di luar negeri ya bagian urusan perberasan di BPK. Nanti kalau datang kami akan koordinasi supaya kita bisa mendapatkan harga beras yang kompetitif, beras pecah untuk industri tanpa harus impor karena beras kita melimpah.

Kemudian Pak sekarang ini sektor industri manufaktur menyumbang Sekitar 19% untuk PDB. Dan Pak Sarmuji beberapa waktu yang lalu menyatakan dorongan agar sektor ini bisa menyumbang sampai 20-25% untuk dalam waktu dekat ini,

Nggak dalam waktu dekat juga, kalau 25% harus agak panjang. Kalau 20% mungkin bisa kita rencanakan ya 2 tahun mungkin bisa. Karena 1% itu udah tinggi

Apa kiat-kiat yang akan dilakukan untuk meningkatkan hingga dari 20% kemudian 25%, mengingat sektor manufaktur ini kan benar-benar diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja.

Ya kita tadi kita harus menciptakan ekosistem yang bagus ya, mereka agar mau investasi di sektor manufaktur harus tumbuh. Itu membutuhkan kerjasama dengan lagi-lagi dengan kementerian lain apakah mereka bisa mendapatkan insentif yang memadai untuk bisa datang ke Indonesia.

Negara lain memberikan insentif yang kuat ya, baik dari perpajakan, custom, terus kemudahan berusaha, perizinan yang baik dan lain sebagainya. Tentu itu harus kita imbangi, kemudahan-kemudahan itu harus kita imbangi, insentif itu harus kita berikan.

Kalau nggak, ya mana orang mau datang ke Indonesia. Yang lain memberikan karpet merah yang luar biasa, mungkin karpet bludru, kita hanya memberikan tikar, ya nggak mau mereka.

Yang kedua kita akan kembangkan kawasan industri baru yang mungkin tematik, khususnya yang tematik ya misalkan. Dan ini mendekati bahan baku. Misalkan kita perlu membuka kawasan industri terutama di luar Jawa, di Kalbar, tema bauksit, dan lain sebagainya.

Ada yang sekarang lagi kita bicarakan sangat serius misalkan tembaga di Maluku, ini bukan hanya akan mendatangkan investasi ke dalam negeri di sektor manufaktur, tetapi juga bisa meratakan pembangunan kita, terutama kalau kita lakukan di luar Jawa. Jadi insentif dan konsentrasi kita untuk menumbuhkan kawasan industri itu menurut saya penting untuk kita lakukan.

Berkaitan dengan industri dalam konteks kekinian, Pak Menteri beberapa waktu yang lalu menyampaikan bahwa transformasi menuju industri hijau bukan sekadar kewajiban lingkungan tapi peluang menuju ekonomi baru. Mungkin itu bisa dijelaskan dan breakdownnya itu seperti apa?

Kebetulan gini, kami kemarin ke Petro untuk meninjau fasilitas teknologi carbon capture and utilization. Di situ carbon itu ditangkap lalu menghasilkan produk sampingan yang bagus.

Jadi kami akan dorong supaya ekonomi hijau ini bukan menjadi unit cost, bukan menjadi cost center, tetapi juga menjadi profit center, sekurang-kurangnya benefit center. Dan ini bisa kita lakukan ternyata dengan teknologi yang kemarin diterapkan di Petrokimia, ada prototipe yang bisa kita kembangkan.

Ada hasil yang cukup bagus produknya adalah soda ash, dan kebetulan soda ash ini belum banyak diproduksi di dalam negeri. Produksi kaca yang juga di JIIPE itu, itu dia bahan bakunya 80% dalam negeri kecuali satu, soda ash.

Jadi di situ saja menggunakan satu teknologi saja itu bisa menjawab, ada offtaker-nya langsung, ada offtaker. Seandainya itu diterapkan CCU itu diterapkan lalu produk sampingannya adalah soda ash, yang nampung sudah ada me-match ini juga satu pekerjaan yang harus kita lakukan.

Dan kita harus yakinkan tadi bahwa ekonomi hijau ini tidak semata-mata dan tidak selalu dipersepsikan sebagai unit cost atau cost center, tetapi juga bisa menjadi profit center.

Berkaitan dengan TKDN, bapak menyampaikan TKDN ini sebagai instrumen kemandirian. Tapi di sisi lain ada juga kalangan pengusaha yang menyampaikan TKDN ini bisa malah menjadi tambahan biaya seperti itu jika mungkin tidak dikelola dengan baik. Mungkin Bapak memiliki pandangan bagaimana TKDN ini supaya tidak menjadi tambahan cost untuk pengusaha manufaktur?

TKDN itu penting karena dengan TKDN itu industri dalam negeri tumbuh. Dengan TKDN itu kemudian ada transfer teknologi juga bisa dilakukan. Dengan TKDN itu juga penyerapan tenaga kerja menjadi lebih banyak. Kalau semuanya impor ya apa yang bisa kita perbuat di dalam negeri.

Apalagi kalau itu barang atau bahan baku yang sudah bisa diproduksi dalam negeri. Bagi kami itu ya wajib untuk bisa diambil bagi produksi dalam negeri. Cuma tentu saja kita harus adil untuk mau, kandungan TKDN tinggi kita pertama harus berikan insentif, ya dengan berbagai cara ya, insentifnya dengan berbagai jenis.

Kedua kita juga harus memberikan kemudahan. Kemudian sertifikasinya harus kita permudah, lalu menyederhanakan perizinan dan lain sebagainya. Itu bagian tak terpisahkan dari usaha kita untuk bisa menerapkan TKDN secara maksimal.

Lalu ada juga kecepatan kita, kecepatan juga harus kita lakukan supaya pengurusan TKDN itu menjadi lebih cepat dan ini menjadi bagian tambahan dari daya saing kita terhadap TKDN kita.

Dalam perjalanan politik pak Sarmuji tentu ada keputusan yang menuntut kompromi dengan berbagai kepentingan lah gitu. Misalkan nanti ada kepentingan investor besar bertentangan dengan keberlanjutan industri lokal, posisi mana kira-kira Pak Sarmuji akan ambil?

Sebenarnya ini nggak harus dihadap-hadapkan secara face to face ya, karena gini karena investor besar visi kami justru harus menumbuhkan industri yang ada di sekitarnya. Misalkan tentang hilirisasi, itu bagi kami bukan hanya menghasilkan satu produk turunan saja.

Itu bisa menghasilkan produk-produk yang lain, bahkan bukan hanya produk yang linear saja. Tetapi juga bisa menghasilkan ekosistem baru yang tumbuh di situ. Saya meyakini kalau kita bisa melakukan sinkronisasi tidak perlu dihadap-hadapkan antara investor besar dengan industri lokal yang tumbuh di situ.

Justru masing-masing bisa menjadi penyangga satu dengan yang lain, bisa dikolaborasikan. Ini jawaban khas politisi, tapi ini beneran. Meskipun ini jawaban khas politisi ini sesuatu yang kita lakukan.