Sarmuji menilai pengembangan industri perkapalan nasional memiliki peluang besar seiring posisi strategis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, garis pantai lebih dari 99 ribu kilometer, dan sekitar dua pertiga wilayah berupa perairan.

Menurut dia, konektivitas maritim menjadi fondasi bagi pemerataan pembangunan, perdagangan, ketahanan logistik, dan daya saing ekonomi.

Data 2022-2025 menunjukkan aktivitas bongkar barang tumbuh rata-rata 5,41 persen per tahun, sedangkan aktivitas muat barang meningkat 4,11 persen per tahun dan total bongkar-muat tumbuh 4,85 persen per tahun. Sementara itu, angkutan penumpang tumbuh rata-rata 12,66 persen per tahun.

Perkembangan tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap kapal baru, jasa reparasi, dan modernisasi armada berpotensi terus meningkat, sehingga membuka peluang bagi pengembangan galangan kapal nasional.

Saat ini, Indonesia memiliki 342 perusahaan galangan kapal yang tersebar di lebih dari 29 provinsi dan 70 kabupaten/kota, serta 127 perusahaan komponen kapal yang sekitar 90 persennya merupakan usaha kecil dan menengah (UKM).

Industri galangan kapal menyerap sekitar 37 ribu tenaga kerja, sedangkan industri komponen kapal menyerap sekitar 6 ribu tenaga kerja. Selain itu, terdapat 16.620 tenaga kerja bersertifikat keahlian pengelasan atau welder.