Meski demikian, Sarmuji menegaskan tantangan industri perkapalan bukan hanya menambah jumlah galangan, melainkan juga meningkatkan kapasitas, mutu, produktivitas, ketepatan waktu, dan penguasaan teknologi secara konsisten.
Dari sisi perdagangan, ekspor produk kapal, perahu, dan bangunan terapung Indonesia mencapai sekitar 4,53 miliar dolar AS selama periode 2022 hingga Juni 2026. Namun, nilai impornya masih lebih tinggi, yakni sekitar 5,30 miliar dolar AS.
Menurut Sarmuji, kondisi tersebut menunjukkan industri perkapalan nasional telah mampu menembus pasar ekspor, tetapi masih memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Sementara Ketua Umum IPERINDO Anita Puji Utami mengatakan, pengukuhan pengurus DPP IPERINDO masa bakti 2026–2030 oleh Menteri Perindustrian menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen pelaku industri perkapalan nasional dalam mengoptimalkan potensi sektor tersebut.
Menurut dia, kepengurusan baru yang terbentuk melalui Rapat Umum Anggota pada Agustus 2026 diharapkan mampu mendorong peningkatan kapasitas dan kemampuan produksi industri perkapalan nasional.
Anita mengatakan, IPERINDO berkomitmen memperkuat industri galangan kapal melalui transformasi teknologi, pengembangan digitalisasi, dan peningkatan efisiensi operasional agar proses produksi berjalan lebih efektif dan mampu meningkatkan daya saing industri.