NADIKABAR.COM — Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengupayakan penguatan pendidikan vokasi sebagai solusi mengatasi pengangguran sekaligus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten, produktif, dan berdaya saing melalui penyelarasan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia industri.
“Saat ini ada paradoks yang cukup tinggi. SMK dibentuk untuk menyiapkan anak-anak yang siap bekerja, tetapi data menunjukkan bahwa pengangguran yang tinggi salah satunya justru berasal dari lulusan SMK. Namun, paradoks itu tidak terjadi di SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor. Ini luar biasa dan patut kita apresiasi,” kata Sarmuji saat mengunjungi SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor, Jawa Barat, Kamis.
Menurut dia, keberhasilan kedua institusi pendidikan vokasi di bawah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tersebut tidak terlepas dari kuatnya kerja sama dengan industri, sehingga lulusan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja.
Penguatan pendidikan vokasi dinilai semakin penting untuk mengoptimalkan bonus demografi Indonesia. Tanpa dukungan kompetensi dan ketersediaan lapangan kerja, besarnya jumlah penduduk usia produktif justru berpotensi menjadi beban ekonomi.
“Bonus demografi seharusnya benar-benar menjadi bonus, menjadi kelebihan dan keuntungan bagi Indonesia. Tetapi kalau tidak diimbangi dengan kemampuan SDM dan kesempatan kerja yang memadai, bonus demografi justru bisa menjadi beban bagi Indonesia ke depan,” katanya menegaskan.
Sarmuji menambahkan, pencapaian target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 membutuhkan dukungan SDM industri berkualitas. Produktivitas tenaga kerja manufaktur ditargetkan meningkat dari Rp124,35 juta per orang pada 2025 menjadi Rp147,7 juta per orang pada 2029.
Oleh karena itu, pendidikan vokasi harus adaptif terhadap perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi, otomasi, dan tuntutan keberlanjutan. Selain penguasaan teknologi, lulusan perlu memiliki kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan memecahkan masalah.
“Kementerian Perindustrian memiliki sekolah-sekolah dan politeknik yang tentu bisa berkontribusi besar untuk menyelesaikan persoalan tersebut, baik masalah pengangguran maupun kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia industri,” katanya menjelaskan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Adie Rochmanto Pandiangan mengatakan kementeriannya terus menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri, meningkatkan kompetensi tenaga pendidik, memperkuat fasilitas pembelajaran, serta memperluas kemitraan dengan dunia usaha.
SMK-SMAK Bogor mengembangkan pembelajaran berbasis praktik, proyek inovasi, sertifikasi kompetensi, dan praktik kerja industri. Adapun Politeknik AKA Bogor memiliki empat program studi yang berfokus pada bidang kimia dan penerapannya.
“Kami ingin seluruh unit pendidikan vokasi Kemenperin terus berkembang menjadi pusat pengembangan kompetensi dan inovasi yang mampu menghasilkan SDM industri unggul. Dengan demikian, pendidikan vokasi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produktivitas, daya saing, dan pertumbuhan industri nasional,” ujar Adie.