Menurut Erick, peringatan satu abad Sumpah Pemuda pada 2028 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mengevaluasi perjalanan pembangunan kepemudaan sekaligus merumuskan arah dan tantangan generasi muda untuk masa depan.

Ia mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda pada 1928 menunjukkan kemampuan para pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang etnis untuk menyatukan tekad sebagai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, meskipun memiliki keragaman identitas.

"Hal-hal ini yang tentu mencerminkan kesuksesan kita sampai hari ini. Bhinneka Tunggal Ika menjadi kekuatan," kata Erick.

Ia menjelaskan, tantangan yang dihadapi pemuda pada 1928 berbeda dengan kondisi saat ini. Jika pada masa itu perjuangan pemuda berlangsung di tengah kolonialisme, generasi muda sekarang menghadapi perubahan global yang mencakup dinamika geopolitik, geoekonomi, digitalisasi, serta persoalan kesempatan kerja.

Meski berbeda konteks, Menpora menilai kedua periode tersebut memiliki kesamaan, yakni menuntut kemampuan generasi muda untuk merespons perubahan zaman dan menentukan arah masa depan bangsa.