"Mirip sebenarnya, yaitu konteks perubahan dunia, di geopolitik, geoekonomi, digitalisasi dan juga pekerjaan, kesempatan bekerja. Itu realitanya saat ini,” ujar Erick.

Lebih lanjut, Erick menyoroti peningkatan jumlah penduduk usia muda yang menjadi bagian dari bonus demografi Indonesia. Menurut dia, kondisi tersebut perlu dikelola secara tepat agar menjadi kekuatan bagi pembangunan nasional, bukan justru menimbulkan persoalan baru, terutama terkait pengangguran.

Karena itu, ia ingin memperluas ruang dialog dengan generasi muda, akademisi, pegiat kepemudaan, dan insan media untuk menyerap pandangan serta gagasan mengenai arah pembangunan kepemudaan Indonesia dalam satu abad mendatang.

"Di sinilah saya ingin mendengar, yang selama ini dari pengalaman, saya banyak mendengar. Hari ini saya ingin mendengar lagi dari pemuda, dari akademisi, dari tentu insan kepemudaan, dan tentu dari rekan-rekan media, untuk seratus tahun ke depan kita mau ke mana," ujar Erick.

Kemenpora juga terus mendorong program-program kepemudaan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing generasi muda Indonesia.