"Ini semua diperuntukkan buat keluarga paling tidak mampu. Tidak ada pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan. Tidak ada tes akademik, yang ada adalah siapa yang memenuhi kriteria. Sebagian besar mungkin mereka berpotensi putus sekolah dan sudah putus sekolah. Sebagian lagi berada di jalanan. Mereka tidak sekolah, mereka ngamen atau bekerja yang tidak semestinya," kata dia.

Ke depan, dia menambahkan bahwa pemerintah menargetkan jumlah siswa Sekolah Rakyat dapat bertambah menjadi lebih dari 100.000 orang pada tahun depan, dan menyentuh angka 300.000 siswa pada 2028.

Melalui penyiapan gedung permanen di setiap kabupaten/kota yang mampu menampung hingga 2.000 siswa, program ini diproyeksikan dapat mendidik tidak kurang dari satu juta anak dari keluarga prasejahtera di seluruh tanah air.