Amran mengungkapkan dugaan permainan harga pangan, khususnya beras fortifikasi, telah menyebabkan konsumen tertipu hingga Rp 89 triliun. Ia menegaskan persoalan tersebut bukan sekadar kenaikan harga, melainkan praktik penipuan terhadap masyarakat.
Menurutnya beras fortifikasi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat miskin, ibu hamil, dan balita untuk membantu penanganan stunting. Ia menyebut beras yang seharusnya dijual Rp 13.000 justru dipasarkan hingga Rp 57.000.
"Ini fortifikasi untuk orang miskin, stunting tapi dijual Rp 50 ribu. Kan nggak pernah ketemu, jadi untuk stunting ibu hamil, balita, orang miskin," tuturnya.