Pemerintah Inggris mendorong setiap rumah tangga memiliki persediaan makanan dan air minum untuk kebutuhan minimal tiga hari, sementara Jepang mengimbau warganya menyimpan persediaan kebutuhan pokok setidaknya untuk tiga hari hingga satu minggu.
Amran menjelaskan Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang dapat mengganggu infrastruktur, hingga terhambatnya rantai pasok dan distribusi kebutuhan pokok.
Per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton. Selain itu, terdapat sekitar 10 juta ton potensi beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen serta sekitar 10 juta ton stok yang berada di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).
Secara keseluruhan, ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton, sementara kebutuhan beras nasional berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan.
"Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global," kata Amran.
Ia menilai, keberhasilan Indonesia mempertahankan swasembada beras tanpa impor penting bagi ketahanan pangan nasional. Pemerintah tidak ingin bergantung pada pasokan pangan dari negara lain, terlebih dengan konflik dan ketegangan antarnegara saat ini,