NADIKABAR.COM — Program SMK Go Global merupakan upaya Pemerintah untuk menyiapkan tenaga kerja yang terampil, profesional, dan berdaya saing global, serta memperkuat pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) sejak sebelum keberangkatan, kata Menteri Pelindungan PMI (P2MI) Mukhtarudin.
"Program ini juga menjadi bentuk pelindungan dari hulu, dengan membekali peserta dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar kerja internasional agar siap bekerja melalui jalur yang legal, aman, dan terlindungi," kata Mukhtarudin saat berkunjung ke Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Bandung, Jawa Barat, Jumat.
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, jumlah peserta pelatihan SMK Go Global dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran (BP3MI) Jawa Barat, per 8 Oktober 2026, mencapai 1.319 orang.
Angka tersebut menjadi jumlah peserta tertinggi sementara dibandingkan dengan wilayah kerja lain BP3MI.
Khusus di UKRI, pelatihan diikuti oleh 175 peserta yang terbagi dalam sembilan kelas.
Program tersebut mencakup tiga bidang pelatihan, yaitu kelas operation production dan Bahasa Inggris dengan 57 peserta dalam tiga kelas; kelas mengelas atau welder dan Bahasa Inggris diikuti 20 peserta dalam satu kelas; serta kelas pramukopi atau barista dan Bahasa Inggris dengan 98 peserta dalam lima kelas.
Menurut Mukhtarudin, pelatihan tersebut merupakan program peningkatan kompetensi (upskilling) bagi peserta yang telah memiliki kemampuan dasar sesuai bidangnya.
Melalui pelatihan dan sertifikasi, kemampuan peserta diharapkan semakin memenuhi standar kompetensi dan kebutuhan dunia kerja internasional.
"Pelatihan dalam Program SMK Go Global ini sepenuhnya dibiayai melalui APBN. Ini merupakan wujud komitmen Kementerian P2MI untuk menghadirkan pelatihan berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional," kata Mukhtarudin.
Sementara itu, Wakil Rektor II UKRI Erdiansyah mengapresiasi kunjungan Menteri Mukhtarudin dan pelaksanaan program SMK Go Global di kampusnya.
Erdiansyah berharap kegiatan itu menjadi awal kolaborasi yang lebih konkret dan berkelanjutan antara UKRI, Kementerian P2MI, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta pemangku kepentingan lainnya.
"Kami ingin agar ketika anak-anak muda Indonesia bekerja di luar negeri, maka mereka bukan hanya dikenal sebagai tenaga kerja, tetapi juga dikenal sebagai tenaga profesional Indonesia yang kompeten, berintegritas, berbudaya, dan mampu menjaga nama baik bangsa," kata Erdiansyah.
Dia berharap SMK Go Global dapat membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan kompetensi dan berkarier di tingkat internasional.
Kementerian P2MI menargetkan pembentukan 2.000 kelas pelatihan di seluruh 23 wilayah kerja BP3I, di mana UKRI merupakan salah satu mitra pelaksana program tersebut dengan kegiatan pelatihan yang telah berjalan sejak awal September lalu.
Kementerian juga menetapkan target penempatan pekerja migran melalui program SMK Go Global secara bertahap, yaitu 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.