Meski mengadopsi konsep tinju jalanan, para anggota yang bertanding tetap menggunakan perlengkapan keselamatan, seperti pelindung kepala, sarung tinju, dan pelindung gigi. Pertarungan juga menerapkan sejumlah aturan yang mengacu pada pertandingan tinju profesional.
Brenx Street Fighter dibentuk oleh Martinus Reynaldi pada 2020. Komunitas ini berawal dari keresahannya melihat tawuran dan pertarungan jalanan yang merugikan anak muda. Melalui tinju, Martinus berupaya menekan kriminalitas serta kekerasan antarremaja, yang dapat berdampak buruk terhadap keluarga dan lingkungan sekolah.
“Sekitar 90 persen anggota Brenx sebelumnya pernah terlibat dalam lingkungan kriminalitas, khususnya tawuran dan kelompok gangster,” ujar Martinus.
Di tengah keterbatasan fasilitas, Brenx menyediakan sarana dan perlengkapan latihan dengan mengandalkan dukungan dari para anggotanya. Setiap anggota membayar uang kas sebesar Rp 10 ribu setiap kali berlatih. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan kegiatan komunitas.