NADIKABAR.COM — Penataan nama rupabumi bukan sekadar urusan peta dan administrasi. Di balik nama kampung, jalan, sungai, taman, dan kawasan pesisir tersimpan sejarah serta identitas masyarakat.

Saat Kota Surabaya, Jawa Timur, terus berubah, merawat nama tempat sama pentingnya dengan menata ruang dan membangun infrastruktur.

Kota tidak hanya dikenali melalui gedung, jalan, taman, atau kawasan perdagangan. Ingatannya juga hidup dalam nama tempat. Kenjeran, Keputih, Wonokromo, dan Peneleh bukan sekadar penunjuk lokasi, tetapi nama yang diwariskan lintas generasi dan menjadi bagian dari sejarah Surabaya.

Perubahan kota membuat kebutuhan untuk menata nama semakin mendesak. Perkembangan permukiman, pembangunan infrastruktur, perubahan fungsi ruang, dan layanan digital menuntut kepastian mengenai nama serta lokasi suatu objek.

Tanpa rujukan yang seragam, satu tempat dapat dikenal dengan beberapa sebutan. Sebaliknya, nama yang sama bisa digunakan untuk menunjuk lokasi berbeda. Ketidaksesuaian semacam ini berpotensi menyulitkan pencarian alamat, pendataan aset, pelayanan perizinan, hingga penanganan keadaan darurat.

Pemerintah Kota Surabaya mulai memperkuat penyelenggaraan nama rupabumi melalui pendataan dan pembakuan secara bertahap. Hingga 2026, sebanyak 1.517 nama dilaporkan telah dibakukan.