NADIKABAR.COM — Sekitar pukul 05.00 WIB, Aprilia (32) sudah sibuk di dapur rumahnya untuk menyiapkan berbagai makanan bagi anak dan suami. Sambil menunggu masakan matang, Aprilia pun menyempatkan diri mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk berangkat kerja.
Tak jarang, semua rutinitas tersebut dilakukan dengan lebih cepat agar tidak berangkat terlalu siang ke kantor.
Setelah urusan rumah tangga selesai, dirinya bersama sang suami pun segera bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sang suami biasanya bertugas mengantar Aprilia ke halte TransJabodetabek D41 di dekat pintu Tol Desari Sawangan, Kota Depok, untuk kemudian turun di Stasiun MRT Fatmawati.
"Aku sebagai ibu bekerja bisa dibilang cukup hectic, karena harus membagi waktu antara urusan rumah, anak, dan pekerjaan. Aku tinggal di Sawangan bersama suami dan satu anak balita, sementara tempat kerjaku di daerah Cempaka Mas, jadi setiap hari harus mengatur waktu dan tenaga," kata Aprilia saat ditemui NadiKabar di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).
"Biasanya pagi hari aku mulai dengan menyiapkan kebutuhan anak dan keluarga, menyiapkan keperluan pribadi untuk kerja. Setelah itu, aku berangkat kerja dan melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi umum," sambungnya.
Aprilia mengatakan, terintegrasinya TransJabodetabek dengan moda transportasi MRT menghadirkan kemudahan tersendiri baginya untuk bekerja. Sebab, dirinya tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk berkendara pribadi agar dapat mencapai lokasi tempat kerjanya.
"Buat aku, perjalanan ke kantor itu sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Kadang capek juga, apalagi kalau harus berangkat pagi dan pulang dalam kondisi lelah setelah bekerja. Tapi karena aku juga punya tanggung jawab sebagai ibu, aku harus bisa mengatur semuanya supaya pekerjaan tetap berjalan dan waktu bersama keluarga juga tetap ada. Jadi, transportasi umum cukup membantu aku menjalani rutinitas tersebut," jelasnya.
Hal Sederhana Sangat Berarti di Transportasi Umum
Sebagai komuter, Aprilia mengatakan dirinya juga kerap menggunakan transportasi umum dalam berbagai situasi, salah satunya saat sedang hamil. Namun, ketika hamil, Aprilia lebih selektif dalam memilih moda transportasi umum.
Dia cenderung memilih moda transportasi yang memudahkannya mendapatkan tempat duduk. Menurutnya, kesempatan bagi ibu hamil untuk duduk di transportasi umum sangat membantu.
Sebab, beraktivitas, seperti bekerja, dalam kondisi hamil cukup menguras tenaga. Untuk itu, kesempatan duduk di transportasi umum sangat membantunya agar bisa beristirahat sejenak.
"Pernah naik MRT saat hamil. (Ketika hamil) Aku jadi lebih memperhatikan kondisi tubuh ketika bepergian. Kalau naik transportasi umum, yang paling aku pikirkan biasanya apakah perjalanan cukup nyaman, apakah aku bisa mendapatkan tempat duduk, dan bagaimana kondisi kereta saat jam sibuk. Menurut aku, untuk ibu hamil, akses yang mudah, informasi yang jelas, serta kesadaran penumpang lain untuk memberikan tempat duduk itu penting banget," ujar Aprilia.
"Hal-hal yang mungkin terlihat sederhana, seperti tidak perlu berdesakan atau bisa beristirahat saat menunggu kereta, bisa sangat berarti buat ibu hamil. Pengalaman itu juga membuat aku semakin sadar bahwa transportasi umum idealnya bisa digunakan dengan nyaman oleh berbagai kalangan, termasuk perempuan hamil dan ibu yang membawa anak," tambahnya.
Pengalaman menggunakan transportasi umum turut diungkapkan oleh Kuma (32), seorang ibu dua anak. Kuma mengatakan dirinya kerap mengajak anaknya bepergian menggunakan moda transportasi umum. Perempuan perantauan asal Semarang ini mengatakan hal tersebut bertujuan memberikan pengalaman kepada anak dalam menggunakan transportasi umum.
Menurutnya, ada nilai-nilai kehidupan positif yang bisa ditanamkan kepada anak saat menggunakan transportasi umum. Penanaman nilai-nilai tersebut diharapkan bisa menjadi bekal bagi anaknya ketika dewasa kelak.
"Saya sering menggunakan MRT Jakarta bersama anak. Dan saya ingin mengenalkan transportasi umum kepada anak sejak dini. Melalui pengalaman tersebut, anak bisa belajar mengenal berbagai moda transportasi, mengikuti aturan di ruang publik, dan memahami bahwa bepergian tidak selalu harus menggunakan kendaraan pribadi. Bagi saya, pengalaman sederhana seperti ini menjadi bagian dari pembelajaran yang menyenangkan di luar rumah," kata Kuma kepada NadiKabar di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026).
Meskipun begitu, Kuma mengatakan dirinya lebih selektif dalam menggunakan moda transportasi umum, khususnya ketika bepergian bersama buah hatinya. Langkah itu semata-mata dilakukan untuk memastikan anak merasa nyaman dan aman ketika menggunakan moda transportasi umum.
"Ketika harus memilih antara KRL dan MRT saat bepergian bersama anak, saya cenderung memilih MRT. Karena berdasarkan pengalaman saya, suasana perjalanannya relatif lebih nyaman dan tidak terlalu padat pada waktu-waktu tertentu," ungkap Kuma.
"Membawa anak tentu membutuhkan perhatian ekstra. Saya perlu memastikan ia (anak) merasa nyaman dan aman selama perjalanan, sehingga saya bisa lebih fokus mendampinginya," sambungnya.
Selain itu, Kuma mengatakan kehadiran fasilitas penunjang seperti nursery room atau kamar bayi di Stasiun MRT Jakarta cukup membantu. Kuma bercerita bahwa dirinya pernah terlambat melakukan pumping sehingga salah satu bagian tubuhnya terasa tidak nyaman atau sakit.
Sebagai seorang ibu menyusui, kondisi tersebut membuat Kuma membutuhkan ruang privat untuk melakukan pumping. Saat berada di tengah perjalanan, Kuma pun memutuskan untuk turun sejenak di salah satu stasiun MRT agar bisa melakukan pumping.