Kuma mengatakan penggunaan nursery room atau kamar bayi bukan kali pertama dilakukan. Dirinya sudah beberapa kali memanfaatkan ruangan tersebut untuk kebutuhan ibu menyusui dan anak.

"Sebagai seorang ibu, salah satu fasilitas yang sangat saya rasakan manfaatnya adalah nursery room. Saya beberapa kali memanfaatkan fasilitas ini untuk mengganti popok anak, menyusui, maupun melakukan pumping. Keberadaan ruang menyusui yang nyaman dan privat sangat membantu, karena kebutuhan bayi tidak selalu bisa menunggu sampai perjalanan selesai," ungkap Kuma.

"Hal yang paling membuat saya terkesan adalah perhatian terhadap detail-detail kecil. Di nursery room yang pernah saya gunakan, tersedia dispenser yang dapat membantu ibu menyiapkan susu formula, serta perlengkapan sederhana seperti spons atau silikon pembersih botol dot. Selain itu, tersedia wastafel untuk mencuci tangan dan membersihkan botol," sambungnya.

Sementara itu, Lisa (60), seorang perempuan lansia pengguna transportasi umum, menyampaikan pandangan lain. Dia mengatakan moda transportasi yang terintegrasi satu dengan lainnya menghadirkan kemudahan tersendiri baginya untuk bepergian.

Dia mencontohkan, ketika hendak menemani anak perempuannya untuk wawancara kerja, ibu dan anak ini memutuskan menggunakan TransJakarta, lalu melanjutkan perjalanan dengan MRT Jakarta untuk mencapai lokasi tujuan.

Perlu diketahui, MRT Jakarta telah terhubung dari Stasiun Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Selain itu, stasiun-stasiun MRT Jakarta melewati sejumlah titik pusat perkantoran, pemerintahan, hingga kawasan wisata dan kuliner seperti Blok M.

"Tadi abis nemenin anak interview, sekarang mau ke Blok M, mau makan," kata Lisa di Stasiun MRT Blok M, Kamis (15/10/2026).

Meskipun begitu, Lisa menilai masih banyak penumpang, khususnya anak muda, yang enggan memberikan kursi kepada penumpang prioritas.

"Kadang-kadang nggak peduli, dia berpura-pura tidur. Oh, dia bisa tidur, orang yang anak muda ini takut kasih tempat duduknya ke sama orang tua, dia (anak muda) berpura-pura tidur," jelasnya.

Menurutnya, fenomena tersebut kerap ditemukan pada jam-jam sibuk, seperti pagi dan sore hari. Keengganan penumpang memberikan kursi prioritas kerap membuat dirinya terpaksa berdiri lebih lama sambil menunggu penumpang lain bersedia memberikan tempat duduk.

"Kesadaran anak muda ini kalau sudah kami yang tua ini naik, tolong kasih tempat duduknya gitu," jelasnya.

Berdasarkan pantauan NadiKabar di sejumlah moda transportasi umum pada pagi, siang, hingga malam hari, fenomena sulitnya mendapatkan tempat duduk bagi penumpang prioritas kerap ditemukan. Para penumpang prioritas yang tidak mendapatkan tempat duduk biasanya memilih bersandar di dekat pintu sambil menunggu hak mereka untuk mendapatkan tempat duduk.

Kondisi tersebut makin diperparah ketika jam berangkat dan pulang kantor tiba. Penumpukan penumpang di peron dan dalam rangkaian kereta kerap menambah kesulitan bagi penumpang prioritas untuk mendapatkan hak mereka.

Situasi berbeda terlihat ketika petugas mendampingi penumpang prioritas sejak dari peron hingga masuk ke dalam rangkaian kereta. Dalam kondisi tersebut, petugas kerap membantu mengarahkan penumpang menuju tempat duduk dan menegur penumpang yang menggunakan kursi prioritas tanpa membutuhkannya.

Sementara itu, anak perempuan Lisa, Nindy (27), mengatakan ada sejumlah alasan dirinya memutuskan mengajak orang tuanya bepergian menggunakan MRT, salah satunya terkait kenyamanan.

Menurutnya, moda transportasi tersebut tergolong lebih bersahabat bagi lansia karena tidak terlalu ramai dan kondisi kereta hingga stasiunnya tergolong bersih. Selain itu, fasilitas lain seperti lift prioritas yang terdapat di setiap stasiun dinilai sangat membantu orang tuanya untuk naik atau turun stasiun.

"Karena MRT kan lebih cepat ya, nggak kena macet. Jadi nggak capek di jalan gitu. Terus di sini juga ada lift, jadi nggak harus capek naik turun tangga. Dan lebih tertata aja, jadi nggak harus desek-desekan," ujar Nindy.

Keamanan Para Penumpang di Transportasi Perlu Diperhatikan

Di balik beragam cerita di atas, ada kekhawatiran tersendiri yang kerap 'menghantui' para penumpang perempuan, yakni aksi pelecehan seksual di transportasi umum. Dikutip dari situs Komnas Perempuan, Survei Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) terbaru menyebutkan 48,9% perempuan pengguna transportasi publik mengalami pelecehan seksual. Jenis pelecehannya beragam, mulai dari verbal hingga nonverbal.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengakui masalah tersebut masih harus mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Sebab, fasilitas yang mumpuni kerap tidak diimbangi dengan sistem pelaksanaan yang berjalan maksimal. Menurutnya, hal itu membuat aksi-aksi tidak terpuji tersebut kerap dirasakan penumpang perempuan.

"Secara umum fasilitas untuk perempuan sudah ada pokoknya di kereta (MRT, KRL, LRT) sudah ada fasilitas (gerbong khusus perempuan) ujung dengan ujung. Kemudian TransJakarta juga ada bus khusus perempuan. Namun dalam pelaksanaan masih belum maksimal, terutama masih terjadi pelecehan seksual," kata Djoko melalui sambungan telepon kepada NadiKabar, Rabu (14/10/2026).