Menurutnya, untuk memberikan rasa aman, khususnya bagi penumpang perempuan, peran petugas di lapangan sangat dibutuhkan. Petugas bisa proaktif memberikan bantuan kepada para penumpang yang membutuhkan.

"Setiap angkutan itu harus ada petugas untuk mengawasi setiap gerak gerik (mencurigakan)," ujarnya.

Dia menambahkan, penambahan rangkaian kereta pada jam-jam sibuk juga menjadi salah satu opsi yang bisa dijalankan untuk memberikan perlindungan terhadap perempuan dan penumpang prioritas. Sebab, ketika seseorang memiliki ruang gerak yang lebih leluasa atau tidak berdesak-desakan, risiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan bisa diminimalkan.

Menurutnya, hal itu juga perlu dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung, seperti CCTV, imbauan lisan dari petugas, hingga stiker edukasi mengenai jenis-jenis pelecehan seksual. Upaya tersebut bisa membantu meminimalkan risiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal tersebut penting untuk mendapatkan perhatian. Pasalnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat adanya peningkatan penggunaan transportasi umum di Ibu Kota pada Juni 2026. Data tersebut mencakup tiga moda transportasi umum, yakni TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.

Berdasarkan data BPS DKI Jakarta, jumlah penumpang transportasi umum mengalami peningkatan secara tahunan. Adapun rinciannya, jumlah penumpang TransJakarta naik 14,99%, MRT Jakarta naik 17,54%, dan LRT Jakarta naik 26,42%.

"Menambah rangkaian dan menambah ruang khusus perempuan saat jam sibuk," ungkapnya.

Ketika mengalami kondisi yang tidak diinginkan, Djoko menyarankan korban segera melapor kepada petugas atau meminta bantuan penumpang lainnya.

"Setidaknya kalau perempuan mengalami itu setidaknya secepatnya melapor atau minimal teriak saja sehingga akan mudah untuk diketahui oleh banyak orang," ungkap Djoko.

Sementara itu, Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda) Rendy Primartantyo mengatakan pihaknya bersedia memberikan pendampingan kepada korban sebagai saksi jika peristiwa tersebut terjadi.

"Sesuai SOP yang dimiliki oleh MRT (SOP - Pelayanan Pelanggan) menjelaskan MRT akan membantu melaporkan kepada pihak berwajib jika korban berkenan untuk memproses hal tersebut. MRT Jakarta akan berperan sebagai pendampingan korban dan mendukung penuh apabila dalam pelaporannya dibutuhkan bukti CCTV dan lain-lain," kata Rendy kepada NadiKabar, Jumat (16/10/2026).

"SOP penanganannya adalah jika korban melaporkan, terbukti dan ingin melanjutkan laporannya, MRT Jakarta akan memfasilitasi laporan tersebut dan bersifat mendampingi korban sebagai saksi dan juga penyedia bukti bila diperlukan CCTV," sambungnya.

Selain itu, Rendy menjelaskan pihaknya juga menghadirkan sejumlah fasilitas dan layanan untuk para perempuan yang masuk dalam kategori prioritas. Untuk ibu menyusui atau ibu yang membawa anak, misalnya, tersedia ruang kamar bayi yang bisa digunakan di seluruh stasiun.

Selain itu, pihaknya juga memberikan pin prioritas untuk memudahkan penumpang prioritas mendapatkan hak mereka, seperti tempat duduk saat berada di dalam rangkaian kereta. MRT Jakarta juga menyediakan kursi prioritas yang biasanya terdapat di kedua ujung setiap gerbong.

"MRT Jakarta didesain secara universal, artinya semua orang bisa menggunakan dengan nyaman dan aman. Selanjutnya, MRT Jakarta dioperasikan dengan standar internasional, yaitu yang lazim digunakan di operator metro lainnya di negara maju," ujarnya.

"Ruang menyusui yang aman dan nyaman akan memberi gambaran baik kepada para pelanggan bahwa bepergian dengan transportasi publik di Jakarta juga bisa dilakukan dengan bermartabat (misalnya tidak mengganti popok atau menyusui di toilet)," sambungnya.

Tidak hanya itu, Rendy mengatakan pihaknya juga menurunkan sejumlah petugas untuk berpatroli dan membantu penumpang yang membutuhkan di bagian peron atau area ticketing.

Pantauan NadiKabar di Stasiun Fatmawati menunjukkan sejumlah petugas tampak proaktif membantu para penumpang yang membutuhkan. Bantuan yang diberikan petugas tidak hanya berupa pemberian kursi prioritas kepada penumpang.

Petugas juga membantu dalam aspek lain, salah satunya ketika mendampingi penumpang tunanetra yang ingin ke kamar mandi. Petugas tersebut bahkan menunggu hingga penumpang itu selesai menggunakan toilet.

"Sejauh ini, MRT Jakarta telah menyediakan petugas keamanan yang rutin berpatroli di dalam area stasiun dan di dalam kereta untuk mengantisipasi situasi serta menjaga kenyamanan pelanggan. Saat operasional waktu sibuk pukul 07.00-09.00 WIB dan 17.00-19.00 WIB setiap rangkaian kereta disediakan kereta khusus perempuan," tutupnya.