NADIKABAR.COM — Di Ranah Minang, rel-rel tua masih menyimpan cerita tentang kejayaan kereta api yang pernah menghubungkan pedalaman dengan pesisir dan membawa kekayaan alam ke pusat perdagangan.

Sebagian besar dari 280 km rel kereta api yang ada di Ranah Minang dalam keadaan terlelap menunggu diaktifkan kembali untuk menggerakkan denyut ekonomi Sumatera Barat (Sumbar).

Besi-besi rel yang dirangkai saat penjajahan kolonial Hindia Belanda tersebut menanti untuk disusun kembali bukan sekadar untuk mengenang seberapa jauh kereta pernah menjelajah pelosok negeri, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu dibawanya bagi generasi hari ini dan nanti.

Hindia Belanda membangun jalur kereta api di Ranah Minang pada 1887 untuk rute Pulau Air ke Padang Panjang. Lalu dilanjutkan ke Bukittinggi yang kemudian dioperasikan pada 1891. Jalur tersebut digunakan untuk membawa produk pertanian dan perkebunan hasil tanam paksa ke Padang guna diekspor ke Eropa.

Penemuan batu bara di Sawahlunto oleh WH De Grave pada 1871 makin memperkuat keinginan Hindia Belanda untuk mengembangkan jalur kereta api di Sumbar.

Maka rel kereta api dari Padang Panjang menuju Muaro Kalaban sepanjang 56 kilometer pun dibangun dan selesai Oktober 1892. Jalur itu dilanjutkan menuju Sawahlunto pada 1896. Jalur di provinsi ini juga merupakan jalur kereta api tambang tertua di Asia sehingga menyimpan nilai sejarah yang tinggi.

Kejayaan itu mulai memudar pada 1970-an sampai akhirnya sebagian besar jalur kereta dinonaktifkan pada 1973 karena kalah bersaing dengan moda transportasi darat lainnya serta berkurangnya produksi batu bara pada tambang PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Ombilin, Sawahlunto. Kereta api jurusan tersebut juga dihentikan operasinya pada 2003.

Jalur yang tertinggal hanya Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Pariaman yang kemudian difokuskan untuk wisata.

Sekarang stasiun kereta api terakhir Sumbar berada di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Padang Pariaman. Padahal, dulu stasiun terjauh di provinsi itu berada di Sawahlunto.Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Bobby Rasyidin mengatakan, saat ini panjang rel kereta aktif di Sumbar hanya 84 kilometer.

Meskipun hanya memiliki jalur sepanjang itu, jumlah penumpang kereta api setiap tahunnya terus meningkat secara signifikan. Pada 2024, jumlah penumpang kereta api di Sumbar sekitar 1,8 juta atau naik 5,9 persen dari tahun sebelumnya.

Kemudian pada 2025 jumlah penumpang moda transportasi itu sekitar 2 juta atau terjadi peningkatan 8,9 persen dari tahun sebelumnya. Lalu pada Semester I 2026 jumlah penumpang naik 22 persen di periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Jadi urang awak ini sudah familiar naik kereta api," kata Bobby Rasyidin.

Menurut dia, peningkatan jumlah penumpang tersebut merupakan potensi pengembangan jalur kereta api di Ranah Minang. Selain itu, memang, ada rencana dibukanya kembali tambang batu bara Ombilin, Sawahlunto.

Oleh karena itu, pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut mencanangkan reaktivasi jalur rel kereta api di Sumbar pada 27 Oktober. Langkah tersebut juga merupakan upaya pemerataan layanan kereta api di luar Pulau Jawa.