Meski begitu, sampai saat ini Mercedes-Benz belum menyebutkan pabrik mana yang terancam tutup imbas lemahnya daya saing produksi di negara tersebut. Meski tentu potensi penutupan pabrik ini sudah ditentang oleh serikat buruh dan menilai pernyataan itu sebagai 'ancaman' semata.

"Mengancam penutupan pabrik bukanlah cara untuk membentuk masa depan. Siapa pun yang menggunakan ancaman seperti itu harus siap menghadapi perlawanan tegas kami," kata seorang juru bicara dewan pekerja umum Mercedes, badan perwakilan karyawan pusat perusahaan.

"Jika dewan manajemen yakin dapat menekan karyawan dengan ultimatum 'konsesi atau penutupan pabrik,' jawaban kami adalah 'tidak akan terjadi selama kami masih menjabat'," tambahnya.