NADIKABAR.COM β€” MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia memperkuat hilirisasi dan industrialisasi dalam rangka mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi di dalam negeri.

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menekankan pentingnya dukungan kebijakan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kontribusi industri pertambangan terhadap negara.

β€œDengan dukungan kebijakan dari seluruh pemangku kepentingan, MIND ID berkomitmen terus memperkuat kontribusi bagi negara melalui pengelolaan sumber daya alam yang semakin terintegrasi, penguatan hilirisasi, dan pengembangan industri bernilai tambah,” kata Maroef Sjamsoeddin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Selama bertahun-tahun, ekspor komoditas seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, emas, dan batu bara memberikan penerimaan bagi negara. Namun, sebagian nilai tambah, lapangan kerja industri, serta penguasaan teknologi masih berkembang di luar negeri.

Karena itu, hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mengubah pola tersebut dengan mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi di dalam negeri, sekaligus memperluas manfaat kekayaan alam bagi perekonomian dan masyarakat.

Dalam upaya tersebut, MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia menjalankan mandat negara untuk mengelola cadangan mineral dan batu bara secara optimal dan berkelanjutan. Peran ini diwujudkan melalui penguatan hilirisasi dan industrialisasi, serta pengembangan industri yang diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam pasar komoditas mineral strategis.

Implementasi strategi tersebut terlihat dari pengembangan sejumlah kawasan industri. Di Kalimantan Barat, ekosistem bauksit, alumina, dan aluminium dikembangkan untuk memperkuat pasokan bahan baku industri manufaktur nasional.

Sementara itu, fasilitas pengolahan tembaga dan logam mulia di Gresik diarahkan untuk mendukung kebutuhan industri kabel, elektronik, energi, hingga pertahanan. Pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik di Maluku dan Karawang juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem industri kendaraan listrik global.

Pengembangan industri tersebut berjalan seiring dengan agenda investasi strategis lintas sektor yang melibatkan Danantara. Program ini mencakup 26 proyek strategis dengan total investasi sekitar Rp225 triliun dan proyeksi penyerapan 37.833 tenaga kerja.

Sebagai perpanjangan tangan Negara, MIND ID mengembangkan peta jalan industri pertambangan, mulai dari fasilitas alumina, pemurnian tembaga dan logam mulia, serta sel baterai, hingga proyek HPAL nikel, smelter aluminium, dan pengolahan batu bara menjadi metanol/DME.

Hilirisasi yang dijalankan membuka peluang peningkatan nilai tambah melalui pengembangan produk turunan. Pada komoditas bauksit, pengolahan menjadi alumina, aluminium, dan kawat aluminium memiliki pengganda nilai tambah masing-masing 10 kali, 80 kali, dan 90 kali.

Pada nikel, pengganda nilai tambah mencapai 10 kali untuk nickel pig iron dan feronikel, 19 kali untuk baja nirkarat, serta 45 kali untuk baterai kendaraan listrik. Sementara itu, pada tembaga, pengganda nilai tambah mencapai 9,5 kali untuk konsentrat tembaga, 10 kali untuk katoda tembaga, dan 25 kali untuk kawat tembaga.

Potensi peningkatan nilai tambah juga terlihat pada komoditas lainnya. Pada emas, pengganda nilai tambah mencapai sembilan kali untuk lumpur anoda dan 10 kali untuk emas batangan. Pada timah, nilainya mencapai 2,3 kali untuk konsentrat timah, 5,7 kali untuk timah ingot, serta enam kali untuk solder dan bahan kimia timah.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani mengatakan, pengolahan aset negara menjadi katalisator transformasi ekonomi nasional untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.