Harganya diproyeksi bertahan di kisaran US$95-US$98 per barel atau bahkan menyentuh US$100 per barel jika ketidakpastian global terus berlanjut.
Merespons momentum melambungnya harga tersebut, SKK Migas kini tengah memfokuskan strategi memaksimalkan volume lifting di lapangan.
"Jadi kita menggunakan momentum pada saat harga naik, bagaimana kita melakukan upaya-upaya untuk lifting bisa dimaksimalkan karena kalau lifting bisa dioptimalkan dengan harga saat ini kan penerimaan negara akan terjaga," ujar Desti.
Meski lonjakan ICP ini sebenarnya berisiko membebani APBN untuk pengeluaran kompensasi subsidi energi, Desti memandang sektor hulu migas setidaknya bisa menambal beban tersebut melalui setoran tambahan penerimaan negara.