Untuk masyarakat yang sebagian besar aktivitasnya dilakukan di perkotaan dan memiliki akses pengisian daya di rumah, mobil listrik dapat menjadi pilihan yang praktis.
Perkembangan infrastrukturnya juga terus meningkat. PLN mencatat telah menyiapkan 4.769 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU di 3.097 lokasi di Indonesia pada Maret 2026. Jarak rata-rata antar-SPKLU yang disiapkan PLN sekitar 22 kilometer.
4. Waktu pengisian menjadi pertimbangan
Perbedaan lain terdapat pada waktu yang dibutuhkan untuk mengisi energi. Mobil hybrid dapat kembali digunakan setelah mengisi bahan bakar dalam waktu relatif singkat.
Pada mobil listrik, waktu pengisian bergantung pada kapasitas baterai, daya charger, dan jenis fasilitas yang digunakan. Pengisian di rumah umumnya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan fasilitas pengisian cepat.
Meski demikian, pengguna mobil listrik dapat mengisi daya ketika kendaraan sedang tidak digunakan, misalnya pada malam hari di rumah.
PLN juga terus menambah fasilitas pengisian cepat. SPKLU Center yang dikembangkan PLN memiliki fasilitas Ultra Fast Charging yang memungkinkan pengisian daya dilakukan lebih cepat dibandingkan pengisian biasa.
5. Bagaimana dengan biaya operasional?
Mobil listrik memiliki potensi biaya energi yang lebih rendah karena menggunakan listrik sebagai sumber tenaga. Besarnya penghematan tetap bergantung pada konsumsi kendaraan, tarif listrik, pola berkendara, serta harga bahan bakar yang dibandingkan.
Sementara itu, mobil hybrid tetap membutuhkan bahan bakar, tetapi penggunaan motor listrik dapat membantu meningkatkan efisiensi, terutama dalam kondisi berkendara tertentu seperti lalu lintas perkotaan.
Karena itu, perbandingan biaya operasional sebaiknya tidak hanya melihat harga pembelian kendaraan, tetapi juga memperhitungkan biaya energi, perawatan, pajak, asuransi, dan kebutuhan penggunaan selama beberapa tahun.