Sulit membayangkan Transport Hub sebagai bangunan mixed-use 12 lantai seperti sekarang. Sekitar tujuh tahun lalu, kawasan tersebut lebih dikenal sebagai Pasar Blora, pasar basah lengkap dengan area parkir di sekitarnya.

Menghidupkan sebuah kawasan ternyata bukan sekadar soal menyediakan bangunan, lalu mengisinya dengan berbagai aktivitas. MRT Jakarta terlebih dahulu mencari tahu calon penggunanya, apa yang mereka cari, dan aktivitas seperti apa yang ingin mereka lakukan melalui survei Know Your Customer (KYC).

"Kita perlu tahu siapa target pengunjung, apa aktivitasnya, apa masalahnya (pain point), lalu kita observasi, sehingga kita mendapatkan sebuah konsep," jelas Bimo.

Pendekatan itu kemudian diterapkan dalam pengembangan Transport Hub Dukuh Atas. Bangunan yang berdiri di bekas kawasan Pasar Blora tersebut kini hadir dengan hotel, gym, area perkantoran, hingga universitas, serta terkoneksi langsung dengan Halte TransJakarta.

"Lalu juga ada food court yang saat ini juga cukup ramai. Karena ternyata di lokasi ini banyak F&B, tapi banyakan outdoor. Ternyata tadi, KYC tadi, ternyata banyak yang ingin makan siang itu nyaman gitu dengan ber-AC dan lain-lain," imbuhnya.

Kebutuhan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai fasilitas di Transport Hub. MRT Jakarta bekerja sama dengan Artotel dalam menghadirkan hotel dengan pemandangan pusat Kota Jakarta. Transport Hub juga menyediakan event space untuk berbagai kegiatan.

Bimo mengatakan, saat ini Transport Hub telah beroperasi lebih dari 100 hari. Hingga September 2026, tercatat jumlah pengunjung hariannya tembus hingga 2.700 orang, dengan okupansi tenant mencapai 88%.

Aktivitas mulai tumbuh di dalam Transport Hub. Namun, menghidupkan sebuah kawasan bukan perkara mudah. Setelah bangunan berdiri dan berbagai fungsi mulai terisi, tantangan berikutnya adalah bagaimana menciptakan alasan agar orang mau datang, tinggal lebih lama, dan kembali lagi.

Berbeda dengan Blok M Hub yang aktivitasnya sudah lebih terbentuk, Transport Hub Dukuh Atas masih membutuhkan banyak kolaborasi untuk membuat kawasan tersebut lebih hidup.

Tantangannya juga bukan hanya tentang pengembangan gedung itu sendiri. Tidak semua area di sekitar kawasan stasiun dan Transport Hub Dukuh Atas milik MRT Jakarta.