"Kalau Blok M itu benar-benar sebelahnya persis stasiun dan konektivitasnya, trotoarnya bisa kita bangun, itu juga trotoar kita yang bangun. Kita perbaikilah, kita tata, PKL-nya tidak ada, segala macem, karena itu bagian dari kita," ujar Bimo.
"Memang Transport Hub Dukuh Atas, challeng-nya adalah dari stasiun menuju Transport Hub Dukuh Atas itu tidak sepenuhnya (kawasan) dimiliki oleh MRT Jakarta untuk menuju ke sana, sehingga ini yang perlu, kita perlu ada kolaborasi dengan Pemkot," sambungnya.
Tantangan tersebut tak lantas menghentikan pengembangan Dukuh Atas. Kawasan ini tetap menjadi prioritas dalam pengembangan TOD MRT Jakarta.
Dalam peta jalan (roadmap) yang telah disiapkan, Dukuh Atas akan menjadi simpul yang menghubungkan enam moda transportasi mulai dari MRT, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Transjakarta, kereta bandara, hingga KRL.
Sebagai penyempurna yang mengintegrasikan seluruh kawasan, saat ini juga tengah disiapkan proyek Pedestrian Deck Dukuh Atas. Proyek jembatan berbentuk cincin ini didesain dengan diameter 100 meter dan berlokasi tepat di area Patung Jenderal Sudirman.
Kehadiran pedestrian deck ini diharapkan menghadirkan rute yang lebih efisien bagi pejalan kaki. Saat ini, MRT Jakarta tengah memasuki tahap pelelangan, dengan target pekerjaan konstruksi dimulai pada November 2026 dan rampung 2028.
Pada akhirnya, upaya MRT Jakarta di Dukuh Atas bukan sekadar soal mengubah wajah sebuah bangunan. Lebih jauh, yang ingin dibangun adalah kawasan yang tak hanya dilewati, tetapi juga menjadi tempat orang beraktivitas.
Stasiun yang sebelumnya hanya menjadi tempat orang datang dan pergi, diharapkan bisa menjadi pintu masuk menuju aktivitas lain. Orang datang, naik MRT, melanjutkan perjalanan, berhenti untuk makan atau bertemu, beraktivitas di kawasan, lalu pulang dan kembali lagi di kesempatan berikutnya.
"Kalau kita hanya melihat stasiun, dari sebelumnya stasiun itu hanya sebagai tempat orang datang dan pergi. Tapi saat ini, kita mampu menciptakan akses yang baik, tempat yang menarik, fasilitas yang nyaman, komunitas yang aktif, maka kawasan tersebut berubah menjadi sebuah destinasi," kata Bimo.