NADIKABAR.COM — Ribuan langkah kaki datang dan pergi di Dukuh Atas dengan berbagai tujuan setiap harinya. Ada yang turun dari MRT untuk berganti moda, berpindah dari KRL ke TransJakarta, atau sekadar melanjutkan perjalanan menuju kantor dan tempat tujuan lainnya.

Dukuh Atas memang sudah lama dikenal sebagai salah satu simpul mobilitas penting di Jakarta, dengan arus manusia yang nyaris tak pernah berhenti. Namun, banyaknya orang yang melintas belum tentu membuat sebuah kawasan benar-benar hidup.

Tantangan sebenarnya justru terletak pada bagaimana membuat mereka tidak hanya singgah, tetapi juga berhenti lebih lama, beraktivitas, dan pada akhirnya ikut menggerakkan ekonomi kawasan.

Upaya itulah yang kini tengah dilakukan MRT Jakarta dalam mengembangkan kawasan Dukuh Atas melalui konsep Transit Oriented Development (TOD). Kawasan ini bukan hanya menjadi tempat orang berpindah dari satu moda ke moda lainnya, tetapi juga ruang dengan berbagai aktivitas.

Division Head Property Management PT MRT Jakarta (Perseroda) M Iqbal Bimo Arifianto mengatakan, keberhasilan transportasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan stasiun, tetapi juga bagaimana masyarakat melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuannya.

"MRT Jakarta hadir sebagai katalisator regenerasi perkotaan, membuat kota itu menjadi hidup. Jadi, kita tidak hanya membawa masyarakat menuju satu poin ke satu poin, tapi juga ikut mendorong bagaimana kawasan tersebut tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan kota," kata Bimo, dalam acara Workshop MRT Fellowship 2026 di JB Tower, Jakarta Pusat, ditulis Senin (28/9/2026).

Pengalaman Blok M menjadi salah satu pijakan. Di sana, kawasan yang lekat dengan aktivitas transit dan perdagangan mulai berkembang menjadi ruang yang juga menawarkan kuliner, lifestyle, komunitas, dan berbagai macam kegiatan.

Namun, setiap kawasan punya cerita yang berbeda. Jika Blok M tumbuh dengan karakter lifestyle, komersial, dan komunitas, Dukuh Atas sejak awal memiliki DNA sebagai simpul mobilitas.

Karena itu, pengembangan Dukuh Atas tidak bisa sekadar meniru apa yang dilakukan di Blok M. Salah satu upayanya diwujudkan lewat Transport Hub Dukuh Atas, yang diharapkan menjadi ruang untuk berbagai aktivitas di tengah kawasan transit tersebut.

"Transport Hub ini di Dukuh Atas, ternyata simpul mobilitas dan integrasi kawasan itu terjadi, sehingga tujuannya adalah bagaimana kawasan tersebut memberi experience semakin baik bagi masyarakat, yaitu mobility tadi ya, connectivity, dan urban activity," ujar Bimo.

Sulit membayangkan Transport Hub sebagai bangunan mixed-use 12 lantai seperti sekarang. Sekitar tujuh tahun lalu, kawasan tersebut lebih dikenal sebagai Pasar Blora, pasar basah lengkap dengan area parkir di sekitarnya.

Menghidupkan sebuah kawasan ternyata bukan sekadar soal menyediakan bangunan, lalu mengisinya dengan berbagai aktivitas. MRT Jakarta terlebih dahulu mencari tahu calon penggunanya, apa yang mereka cari, dan aktivitas seperti apa yang ingin mereka lakukan melalui survei Know Your Customer (KYC).

"Kita perlu tahu siapa target pengunjung, apa aktivitasnya, apa masalahnya (pain point), lalu kita observasi, sehingga kita mendapatkan sebuah konsep," jelas Bimo.

Pendekatan itu kemudian diterapkan dalam pengembangan Transport Hub Dukuh Atas. Bangunan yang berdiri di bekas kawasan Pasar Blora tersebut kini hadir dengan hotel, gym, area perkantoran, hingga universitas, serta terkoneksi langsung dengan Halte TransJakarta.

"Lalu juga ada food court yang saat ini juga cukup ramai. Karena ternyata di lokasi ini banyak F&B, tapi banyakan outdoor. Ternyata tadi, KYC tadi, ternyata banyak yang ingin makan siang itu nyaman gitu dengan ber-AC dan lain-lain," imbuhnya.

Kebutuhan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai fasilitas di Transport Hub. MRT Jakarta bekerja sama dengan Artotel dalam menghadirkan hotel dengan pemandangan pusat Kota Jakarta. Transport Hub juga menyediakan event space untuk berbagai kegiatan.

Bimo mengatakan, saat ini Transport Hub telah beroperasi lebih dari 100 hari. Hingga September 2026, tercatat jumlah pengunjung hariannya tembus hingga 2.700 orang, dengan okupansi tenant mencapai 88%.

Aktivitas mulai tumbuh di dalam Transport Hub. Namun, menghidupkan sebuah kawasan bukan perkara mudah. Setelah bangunan berdiri dan berbagai fungsi mulai terisi, tantangan berikutnya adalah bagaimana menciptakan alasan agar orang mau datang, tinggal lebih lama, dan kembali lagi.

Berbeda dengan Blok M Hub yang aktivitasnya sudah lebih terbentuk, Transport Hub Dukuh Atas masih membutuhkan banyak kolaborasi untuk membuat kawasan tersebut lebih hidup.

Tantangannya juga bukan hanya tentang pengembangan gedung itu sendiri. Tidak semua area di sekitar kawasan stasiun dan Transport Hub Dukuh Atas milik MRT Jakarta.

"Kalau Blok M itu benar-benar sebelahnya persis stasiun dan konektivitasnya, trotoarnya bisa kita bangun, itu juga trotoar kita yang bangun. Kita perbaikilah, kita tata, PKL-nya tidak ada, segala macem, karena itu bagian dari kita," ujar Bimo.

"Memang Transport Hub Dukuh Atas, challeng-nya adalah dari stasiun menuju Transport Hub Dukuh Atas itu tidak sepenuhnya (kawasan) dimiliki oleh MRT Jakarta untuk menuju ke sana, sehingga ini yang perlu, kita perlu ada kolaborasi dengan Pemkot," sambungnya.

Tantangan tersebut tak lantas menghentikan pengembangan Dukuh Atas. Kawasan ini tetap menjadi prioritas dalam pengembangan TOD MRT Jakarta.

Dalam peta jalan (roadmap) yang telah disiapkan, Dukuh Atas akan menjadi simpul yang menghubungkan enam moda transportasi mulai dari MRT, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Transjakarta, kereta bandara, hingga KRL.

Sebagai penyempurna yang mengintegrasikan seluruh kawasan, saat ini juga tengah disiapkan proyek Pedestrian Deck Dukuh Atas. Proyek jembatan berbentuk cincin ini didesain dengan diameter 100 meter dan berlokasi tepat di area Patung Jenderal Sudirman.

Kehadiran pedestrian deck ini diharapkan menghadirkan rute yang lebih efisien bagi pejalan kaki. Saat ini, MRT Jakarta tengah memasuki tahap pelelangan, dengan target pekerjaan konstruksi dimulai pada November 2026 dan rampung 2028.

Pada akhirnya, upaya MRT Jakarta di Dukuh Atas bukan sekadar soal mengubah wajah sebuah bangunan. Lebih jauh, yang ingin dibangun adalah kawasan yang tak hanya dilewati, tetapi juga menjadi tempat orang beraktivitas.

Stasiun yang sebelumnya hanya menjadi tempat orang datang dan pergi, diharapkan bisa menjadi pintu masuk menuju aktivitas lain. Orang datang, naik MRT, melanjutkan perjalanan, berhenti untuk makan atau bertemu, beraktivitas di kawasan, lalu pulang dan kembali lagi di kesempatan berikutnya.

"Kalau kita hanya melihat stasiun, dari sebelumnya stasiun itu hanya sebagai tempat orang datang dan pergi. Tapi saat ini, kita mampu menciptakan akses yang baik, tempat yang menarik, fasilitas yang nyaman, komunitas yang aktif, maka kawasan tersebut berubah menjadi sebuah destinasi," kata Bimo.