Hasilnya menunjukkan pola perubahan yang menarik. Pada 2018 hingga pertengahan 2022, wilayah di utara Kawah Santiago mengalami pergerakan menjauh dari satelit atau menunjukkan tanda deflasi.

Namun, mulai pertengahan 2022 hingga 2024, arah pergerakannya berubah. Permukaan mulai bergerak menuju satelit dengan perubahan sekitar 4 milimeter per tahun. Menurut peneliti, perubahan tersebut kemungkinan menunjukkan inflasi reservoir magma akibat adanya pasokan magma baru dari kedalaman.

Pemodelan data satelit menunjukkan reservoir utama, yang disebut Masaya Central Reservoir (MCR), berada sekitar 3,2 kilometer di bawah permukaan dan di bagian tengah kaldera. Reservoir tersebut mengalami perubahan volume sekitar 450 ribu meter kubik pada periode 2022-2024 dalam model penelitian.

Sementara itu, ilmuwan juga menemukan indikasi adanya reservoir kedua yang jauh lebih dangkal, sekitar 200 meter di bawah Kawah Santiago. Berbeda dengan reservoir utama, bagian dangkal ini justru terus menunjukkan tanda deflasi selama periode pengamatan.

Dengan demikian, sistem magma Masaya bukanlah satu ruang besar yang sederhana. Ada setidaknya dua bagian sistem penyimpanan magma yang menunjukkan perilaku berbeda. Peneliti menyebut struktur seperti ini memiliki kemiripan dengan sistem magma di Gunung Kilauea, Hawaii, yang juga memiliki reservoir dangkal dan reservoir lebih dalam.

Apakah ini tanda Masaya segera meletus? Belum tentu. Temuan bahwa reservoir magma mengalami inflasi tidak berarti letusan besar akan segera terjadi. Peneliti justru menekankan bahwa memahami perubahan sistem magma diperlukan untuk mengetahui bagaimana Masaya dapat berpindah dari kondisi relatif tenang menuju aktivitas lava yang lebih aktif.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan memperkirakan bahwa jika tren inflasi terus berlanjut, aktivitas efusif atau aktivitas lava dapat kembali meningkat. Namun, diperlukan penambahan magma yang cukup besar sebelum kondisi tersebut dapat menghasilkan periode aktivitas seperti kemunculan danau lava sebelumnya.