Studi ini juga tidak menyatakan bahwa Masaya sedang berada di ambang letusan besar. Sebaliknya, temuan tersebut memberikan petunjuk mengenai proses yang berlangsung jauh di bawah permukaan dan dapat membantu ilmuwan memantau perubahan aktivitas gunung api.
Masaya menarik perhatian bukan hanya karena sejarahnya sebagai Mulut Neraka, tetapi juga karena lokasinya yang dekat dengan populasi besar. Gunung ini berada sekitar 20 kilometer dari Managua dan dalam radius sekitar 21 kilometer terdapat sekitar 2 juta orang. Karena itu, perubahan sistem magma di bawah Masaya penting untuk dipantau.
Peneliti menyebut pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana magma bergerak dari reservoir dalam menuju bagian dangkal dapat membantu meningkatkan pemantauan dan prakiraan aktivitas erupsi.
Dengan kata lain, satelit tidak sedang 'melihat' magma secara langsung. Ilmuwan membaca perubahan sangat kecil pada permukaan tanah, kemudian menggunakan model geofisika untuk memperkirakan apa yang terjadi jauh di bawahnya.
Temuan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa perubahan kecil di permukaan dapat menjadi petunjuk mengenai dinamika magma yang sedang berlangsung di kedalaman. Seperti ditulis para peneliti, sistem pipa magma Masaya perlu dipahami dengan baik untuk menilai bahaya vulkanik secara akurat dan tepat waktu.
Jadi, Mulut Neraka Masaya memang menunjukkan tanda magma kembali memasok reservoirnya, tetapi temuan tersebut bukan ramalan bahwa letusan besar akan segera terjadi. Yang terungkap adalah sistem magma di bawah gunung tersebut ternyata dinamis dan memiliki setidaknya dua reservoir dengan perilaku berbeda.