Perahu sederhana yang dilengkapi atap pelindung dari terpal gelap dan cadik di kedua sisinya itu menjadi saksi perubahan hidupnya, dari seorang sopir truk menjadi pengantar wisatawan yang mampu membiayai pendidikan anak-anaknya.

Bagi sebagian orang, perahu tersebut mungkin hanya alat transportasi. Namun, bagi Musa, perahu itu merupakan modal usaha sekaligus tumpuan harapan untuk membesarkan lima anaknya.

Sejak 2019, laut di Pantai Mali menjadi tempat Musa menggantungkan hidup. Setiap hari, ia mengantar wisatawan menuju perairan tempat Mawar kerap terlihat.