NADIKABAR.COM — Museum sejarah barangkali harus mengubah cara bercerita agar kisah masa lalu tetap dapat dipahami oleh generasi yang tidak mengalaminya.
Gagasan itu terlihat dari wajah baru Museum Kesaktian Pancasila di kawasan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/10), bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Perubahan museum tidak berhenti pada pembaruan bangunan dan tata ruang. Pemerintah, melalui Kementerian Kebudayaan, mengubah storyline, urutan waktu, konteks sejarah, tata pamer, serta menambahkan teknologi digital dan ruang immersive. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan pembaruan tersebut dilakukan untuk memperkuat fungsi museum sebagai ruang pembelajaran sejarah.
Perubahan itu sekaligus menjawab persoalan yang melekat pada museum sejarah. Koleksi yang sama dapat menghasilkan pengalaman berbeda ketika cara penyajiannya berubah.
Diorama yang selama puluhan tahun menjadi objek utama pengamatan pengunjung kini ditempatkan dalam alur cerita yang lebih lengkap, sehingga pengunjung mendapat konteks mengenai peristiwa yang ditampilkan.
Sebanyak 34 diorama asli tetap dipertahankan. Koleksi tersebut menggambarkan berbagai peristiwa sejarah Indonesia dalam rentang 1945 hingga 1974. Dengan mempertahankan diorama autentik, revitalisasi tidak mengubah benda utama yang menjadi bagian dari identitas museum. Hal yang diperbarui terutama cara pengunjung berinteraksi dengan koleksi tersebut.
Fadli menjelaskan penyempurnaan dilakukan karena urutan peristiwa dan lini masa yang sebelumnya disajikan belum cukup lengkap. Para sejarawan dilibatkan untuk melengkapi narasi dan konteks sejarah. Perubahan itu membuat alur pameran tidak semata-mata bergantung pada benda tiga dimensi, melainkan pada informasi yang menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.
Perubahan cara penyampaian terlihat sejak pengunjung memasuki ruang pamer. Museum, kini menggunakan konsep in-situ, dengan alur yang menghubungkan gedung museum dan sejumlah situs bersejarah di kawasan Lubang Buaya.
Di lantai dasar, pengunjung menemukan instalasi relief tiga dimensi Garuda Pancasila yang diikuti penyajian informasi mengenai proses lahir dan dirumuskannya Pancasila, dinamika komunisme global, hingga sejarah masuknya gerakan tersebut ke Indonesia.
Penyusunan seperti itu mengubah posisi museum dari ruang yang menyajikan koleksi menjadi ruang yang mengarahkan pengunjung mengikuti sebuah rangkaian pengetahuan. Informasi teks, visual, dan audio bekerja sebagai penghubung antara benda yang dipamerkan dan peristiwa yang hendak dijelaskan.
Teknologi, kemudian menjadi bagian dari perubahan tersebut. Sejumlah diorama dilengkapi tampilan video. Kaca dari diorama seketika berubah menjadi layar berisikan video tentang peristiwa dalam adegan pada diorama tersebut. Video animasi itu pun dibuat dengan AI.