Kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut selama berminggu-minggu dilaporkan mengganggu penerbangan, menyebabkan penutupan sekolah, dan mendorong imbauan penggunaan masker bagi anak-anak serta lansia di sejumlah wilayah.
NASA menjelaskan El Niño mengubah pola curah hujan sehingga sebagian wilayah Pulau New Guinea mengalami kekeringan ekstrem.
Di kawasan Trans-Fly, Papua Nugini bagian selatan, tercatat lebih dari 90 hari berturut-turut tanpa hujan. Sejak Agustus, curah hujan di sejumlah lokasi bahkan hanya sekitar 5-10% dari kondisi normal.
Meski kekeringan memperbesar risiko kebakaran, NASA menyebut sebagian besar kebakaran di kawasan ini dipicu aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, dan perburuan.
Dalam kondisi kering, api yang awalnya digunakan untuk pengelolaan lahan dapat menyebar tidak terkendali.