"Kesehariannya macam-macam. Di situ ada yang menjadi pemulung, mengumpulkan barang-barang bekas. Ada juga yang pengamen, terus ada juga yang memang wirausaha sendiri. Kalau Pak Dadang itu yang tadi diviralkan, dia itu memang menjual jasa untuk semacam merawat makam ke ahli waris-ahli waris," jelasnya.
Iman mengklaim bahwa bangli itu tidak setiap hari ditinggali Dadang untuk tidur, karena sesekali Dadang pulang ke kontrakannya. Ia juga meluruskan sejumlah narasi yang viral di media sosial, menurutnya konten yang viral tersebut dibuat dramatis.
"Ya kadang-kadang juga mungkin kalau tidak pulang juga nginep," ucapnya.
Iman menyebut, notabene bangli ini berada di sempadan Sungai Citepus.
"Kebanyakan yang dipakai itu areanya kontur miring, buffer untuk sungai," tuturnya.
Menurut Iman, jika sudah ditertibkan, pihaknya tidak bisa memanfaatkan lahan tersebut untuk dijadikan makam. Lahan itu merupakan area penyangga tim redaksi makam dan sungai yang harusnya berfungsi saat sungai meluap.
Lalu kapan bangli ini ditertibkan? Iman menyebut masih menunggu Satpol PP Kota Bandung.
"Mungkin nanti dari Satpol PP yang menyampaikan. Kan gini, sekarang Bandung lagi giat-giatnya menertibkan bangunan-bangunan liar, terutama yang di atas trotoar. Kalau ini kan agak di dalam. Mungkin tinggal nunggu list," pungkasnya.