Selain Jawa Barat, DKI Jakarta menjadi tujuan terbesar kedua PMA sektor jasa lainnya, dengan realisasi meningkat dari Rp24,7 triliun menjadi Rp29,9 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi PMA pada Januari-September 2026 mencapai Rp777,8 triliun, meningkat 20,67 persen secara tahunan menurut perhitungan NEXT Indonesia Center.
Investasi asing tersebut menyumbang 50,5 persen dari total realisasi investasi nasional sebesar Rp1.539,2 triliun, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp761,4 triliun atau 49,5 persen.
Meski investasi asing meningkat, NEXT mencatat PMDN mengalami kontraksi masing-masing 7,77 persen pada triwulan II dan 7,48 persen pada triwulan III-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"PMA memang mampu menopang pertumbuhan investasi ketika PMDN melemah. Namun, kondisi ini juga perlu menjadi perhatian karena pertumbuhan investasi yang sehat membutuhkan kontribusi modal asing dan domestik secara seimbang," ucap Ade.
βββββββIa menilai pelemahan investasi domestik berkaitan dengan permintaan pasar yang belum kuat, tingginya biaya produksi dan pembiayaan, serta ketidakpastian regulasi yang membuat sebagian pelaku usaha menahan ekspansi.
Karena itu, penguatan investasi asing perlu diimbangi dengan perbaikan kondisi usaha di dalam negeri agar peningkatan investasi dapat memberikan manfaat lebih luas bagi kegiatan ekonomi nasional.