Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan perluasan data center pendukungnya akan semakin memperberat tantangan ini. GPT-3, sebuah model AI, diperkirakan mengonsumsi 500 ml air untuk setiap 10 hingga 50 respons yang dihasilkan. Jika dikalikan dengan miliaran penggunanya, total jejak air yang dihasilkan oleh AI menjadi sangat besar.

Meskipun operator pusat data mulai memahami dan mengukur konsumsi air mereka, aspek ini sering kali kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan jejak karbon dalam operasional inti data center. Hal ini menyoroti adanya peluang penting untuk menerapkan solusi pengelolaan air sirkular yang strategis, seperti pemulihan dan optimalisasi penggunaan air, dalam skala luas di data center.

Lebih lanjut, sebuah studi terbaru memperkirakan bahwa AI dapat mengonsumsi 1,7 triliun galon air secara global pada tahun 2027. Hal ini akan berdampak sangat buruk terhadap sumber daya air.

Menurut The Conversation, penilaian terkini oleh para peneliti Stanford University menunjukkan bahwa dari 9.500 data center yang ada di dunia, sebagian besar terkonsentrasi di Amerika Utara dan Eropa, dan seperempatnya 'sudah berada di lokasi di mana permintaan air melebihi pasokan lokal setidaknya pada sebagian waktu dalam setahun'.