Akibatnya, aksi protes telah terjadi di berbagai tempat, mulai kota-kota besar seperti Vancouver hingga wilayah permukiman kelas pekerja di New Jersey dan desa-desa di Lombardy, Italia. Masyarakat meragukan manfaat pusat-pusat data ini, mengingat berbagai laporan menunjukkan keberadaannya berkaitan erat dengan konsumsi air yang tinggi serta pencemaran air.
Aksi protes paling dekat adalah di negara tetangga, Malaysia. Pesatnya pertumbuhan pusat data di Negeri Jiran mendapat sorotan tajam pada 7 Februari 2026, saat pembangunan fasilitas tersebut memicu protes publik pertama di negara itu.
Lebih dari 50 orang berkumpul di depan lokasi pembangunan data center yang berdekatan dengan kawasan permukiman di negara bagian Johor, wilayah selatan Malaysia. Mereka menuntut diakhirinya polusi debu serta kompensasi atas dampak negatif apa pun yang mungkin ditimbulkan proyek tersebut terhadap kesehatan mereka. Para pengunjuk rasa juga menyatakan kekhawatiran bahwa fasilitas itu akan berdampak pada pasokan air mereka.
Mereka yang berkumpul menyatakan mewakili hampir 1.000 warga yang tinggal di empat kompleks perumahan di distrik Gelang Patah. Proyek yang berlokasi kurang dari satu kilometer dari rumah-rumah terdekat ini dikembangkan untuk perusahaan asal China, Zdata Technologies. Pihak pengembang tidak menemui para pengunjuk rasa, yang kemudian membubarkan diri setelah 90 menit di bawah pengawasan puluhan personel kepolisian.