"Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujarnya.
Kendati demikian, Lutfi tidak menyertakan bukti yang mendukung tuduhan tersebut. Klaim mengenai keterlibatan Singapura, Temasek, GIC, maupun sosok yang disebutnya itu belum terverifikasi secara independen.
Lutfi menduga tekanan terhadap pasar modal Indonesia berkaitan dengan kepentingan investor asing yang ingin kembali membeli saham dengan harga lebih rendah.
Ia mengklaim dana institusi asing telah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Namun, keluarnya dana tersebut disebut tidak membuat harga saham jatuh sesuai harapan investor asing.
"Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur. Karena harganya tidak turun, mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah," katanya.