Sementara itu, Duta Literasi Keuangan Media Massa OJK, Asmarandani Heryadi Putri menegaskan edukasi literasi keuangan penting karena keuangan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas masyarakat sehari-hari. Terlebih saat memberikan edukasi, Dani menemukan sebagian warga menganggap pendapatan yang mereka miliki terlalu kecil untuk diatur.

"Di daerah Banggai Kepulauan, masyarakatnya rata-rata merasa sulit mengatur keuangan karena terlalu kecil katanya untuk diatur. Tapi, saya menegaskan ke mereka bahwa mengatur uang tidak harus dimulai dengan yang besar," ucapnya.

Dani berharap pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara berkelanjutan hingga mereka bisa melek terhadap finansial, termasuk dalam mengelola usaha pariwisata.

"Saya berharap edukasi literasi keuangan tidak berhenti sampai saya pulang lagi ke tempat asal. Tapi ini harus continue dan sustain di mana ini yang tadinya literasi keuangan adalah pengetahuan harus berubah menjadi kebiasaan," ungkapnya,

Wisata Desa Luk Panenteng Makin Dilirik

Wisata di Desa Luk Panenteng kini semakin dilirik. Tak hanya turis lokal, wisatawan mancanegara pun terlihat mulai berdatangan menikmati wisata alam di sini.

Berkembangnya kunjungan wisata tentunya membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, mulai dari jasa wisata, kuliner hingga penginapan.

"Dengan adanya wisata ini otomatis banyak potensi yang kita dapat. Pertama, retribusi masuk. Kemudian, jasa penyewaan alat di sini juga sudah banyak. Dan yang paling mendasar itu pemilik-pemilik lahan ini kan dapat bagi hasil. Mereka juga memperoleh keuntungan dari kegiatan wisata ini," ujar Sekretaris Desa Luk Panenteng, Sumardianto Yuan kepada NadiKabar.

"Kemudian usaha-usaha kecil menengah, UMKM, warung dan lain sebagainya mereka juga mendapat dari tingkat kunjungan wisatawan. Kemudian pemilik-pemilik homestay itu mendapatkan penghasilan dari menginapnya para wisatawan," imbuhnya.

Sumardianto yang juga Pengelola BUMDES Luk Panenteng bercerita Desa Luk Panenteng awalnya tak banyak dikenal, bahkan dulunya belum teraliri listrik. Pengelolaan wisata pun sempat terhenti pada 2020 akibat pandemi COVID-19.

Memasuki tahun 2022, pengelolaan mulai dibenahi kembali seiring pembangunan sejumlah fasilitas pendukung. Menurutnya, perkembangan infrastruktur dan kerja sama dengan OJK serta perbankan turut membuka peluang untuk mendorong digitalisasi pengelolaan wisata.