NADIKABAR.COM — Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memetakan rantai nilai (value chain) industri rumput laut di Indonesia dari hulu hingga hilir, guna mengoptimalkan potensi yang bisa dimanfaatkan.
Peneliti PRSIMB BRIN Ari Kabul Paminto dalam keterangan di Jakarta, Kamis, mengatakan pemetaan rantai nilai diperlukan untuk mengetahui posisi setiap tahapan dalam industri sekaligus mengidentifikasi ruang peningkatan nilai ekonomi yang masih dapat dikembangkan.
"Kita harus bertransformasi dari resource-based economy yang hanya mengeksploitasi bahan mentah menuju capability-based economy yang mengandalkan penguasaan teknologi dan inovasi bernilai tambah tinggi. Sumber daya alam harus kita posisikan sebagai input awal, bukan produk akhir," kata Ari.
Dalam pemetaan tersebut, BRIN menelusuri proses industri mulai dari bahan baku, pengolahan, produk antara, hingga berbagai produk turunan dan aplikasinya.
Pendekatan ini digunakan untuk melihat bagian rantai nilai yang telah berkembang sekaligus mengidentifikasi tahapan yang masih memiliki peluang untuk menghasilkan nilai tambah.
Lebih lanjut, Kepala PRSIMB BRIN Nugroho Adi Sasongko mengatakan pemetaan diperlukan untuk mengetahui sejauh mana nilai ekonomi rumput laut telah terbentuk pada setiap tahapan pengolahan.
"Kami ingin melihat sebenarnya turunan produk-produk kelautan, khususnya rumput laut, sudah sampai sejauh mana. Apakah masih dalam bentuk biomassa kering atau sudah dalam bentuk produk turunan dan berapa besar nilai tambahnya," ujar Nugroho.
Selain menelusuri aliran produk dan nilai tambah pada setiap tahapan, kajian juga melihat kemungkinan pemanfaatan bahan baku secara lebih menyeluruh melalui pendekatan biorefinery cascading.
Pendekatan tersebut memungkinkan satu bahan baku dimanfaatkan secara bertahap untuk menghasilkan beberapa jenis produk.
Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli), Pontas Tambunan, menjelaskan pendekatan tersebut dapat digunakan untuk memanfaatkan rumput laut secara lebih menyeluruh.
"Proses ekstraksi rumput laut tidak boleh lagi menyisakan limbah buang (waste) yang tidak bernilai. Melalui pendekatan cascading, rumput laut diekstraksi secara bertahap sehingga nilai ekonominya dapat dimanfaatkan secara lebih utuh," ucap Pontas.
Diketahui, Indonesia saat ini memiliki 57 industri pengolahan rumput laut dengan total kapasitas terpasang mencapai 197.650 ton bahan baku kering per tahun. Namun, sekitar 80 persen produk karagenan yang dihasilkan masih berada dalam bentuk produk setengah jadi (semi-refined/ATC).
Data tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai ruang pengembangan produk pada tahapan yang lebih hilir. Produk turunan yang dapat dikembangkan dari rumput laut antara lain karagenan, agar, alginat, pangan fungsional, farmasi, kosmetik, bioplastik, dan biostimulan.
Selain itu, pemanfaatan rumput laut melalui pendekatan tersebut dapat mencakup produk seperti biostimulan, nutrisi, agar, dan karagenan. Sementara itu, material sisa dapat diarahkan untuk menghasilkan produk energi seperti biogas dan Refuse Derived Fuel (RDF).