NADIKABAR.COM — Ada sebuah anggapan yang menyebut bahwa seseorang dengan paha besar lebih berpeluang berumur panjang. Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Yunita Aryani, menjelaskan bahwa sejumlah penelitian menemukan bahwa lingkar paha kecil berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini yang lebih tinggi. Hal ini lantaran lingkar paha yang terlalu kecil merupakan indikator massa otot dan status gizi yang kurang baik pada paha.
Penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal (BMJ) menemukan lingkar paha kecil berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit penyakit jantung koroner. Hasilnya, kondisi ini dapat berakibat kematian dini pada laki-laki maupun perempuan.
Lingkar paha terdiri atas tulang, massa otot, lemak subkutan, cairan, dan jaringan lainnya. Dua orang dengan lingkar paha yang sama belum tentu memiliki kondisi kesehatan serupa.
"Menilai derajat kesehatan seseorang hanya dengan melihat jumlah massa otot saja tidak cukup. Kekuatan dan fungsi otot sering kali memberikan informasi yang lebih bermakna daripada ukuran semata," katanya di laman IPB University, dikutip Kamis (20/8/2026).
Lemak di paha dan bokong memiliki karakteristik yang berbeda dengan lemak visceral. Lemak visceral lebih aktif secara metabolik dan berkaitan dengan resistensi insulin, perlemakan hati, diabetes tipe 2, gangguan kolesterol, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular lainnya.
Oleh karena itu, dr Yunita menegaskan lingkar paha tidak dapat dijadikan indikator kesehatan tunggal. Kesehatan seseorang juga dipengaruhi oleh pola hidup, aktivitas fisik, pola makan, pola tidur, kondisi kesehatan mental, faktor genetik, lingkungan, dan bukti pemeriksaan kesehatan secara berkala.
"Jadi, bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya," ujar dr. Yunita.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak merasa sehat hanya karena memiliki paha besar.
"Ingat, bukan besarnya paha, namun massa otot yang terbentuk dari besarnya paha," tegasnya.
Dalam laporan Harvard Health Publishing tahun 2012, sebuah studi meneliti bagaimana lingkar pahamemengaruhi kesehatan. Para ilmuwan Denmark mengevaluasi 2.816 pria dan wanita berusia 35 hingga 65 tahun yang bebas dari penyakit jantung, stroke, dan kanker ketika mereka bergabung dalam penelitian pada akhir tahun 80-an.
Hasilnya, ditemukan bahwa orang dengan paha besar memiliki risiko penyakit jantung dan kematian dini yang lebih rendah daripada mereka yang memiliki paha tipis. Dalam hal ini, para ilmuwan mengukur ukuran paha tetapi bukan komposisi paha. Jadi, mereka tidak dapat memastikan apakah perlindungan yang tampak pada paha besar disebabkan oleh lebih banyak otot, lebih banyak lemak, atau keduanya.
Studi lain tahun 2009 menemukan bahwa otot menjadi prediktor penting yang mendukung seseorang hidup lebih lama. Sebagian alasannya mungkin karena otot yang besar dan kuat mencerminkan olahraga teratur dan gaya hidup aktif.
Menurut studi, berkontribusi terhadap kesehatan. Otot membakar kalori lebih cepat daripada jaringan lain dan lebih responsif terhadap insulin.
Secara umum, otot paha yang besar mungkin lebih menjelaskan kenapa memiliki paha besar berkaitan dengan potensi umur yang lebih panjang.