"Para ahli menjadi pusat kendali, sementara setiap sektor dan semua orang berada di garis depan. Keduanya harus bekerja bersama," katanya.

Howon juga menyinggung kondisi keamanan siber di Indonesia. Ia mengaku pernah mengunjungi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) beberapa tahun lalu. Menurutnya, BSSN pernah melaporkan sekitar 3 miliar anomali trafik, yang sebagian besar disebut berkaitan dengan malware.

Ia menambahkan perkembangan AI membuat pencarian celah keamanan dapat dilakukan secara otomatis dan dalam skala besar. Namun, teknologi yang sama juga bisa dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan siber, misalnya membantu mendeteksi ancaman lebih cepat.

Howon mengatakan, di Korea Selatan, sistem industri teknologi informasi, pemerintahan, hingga militer saling terhubung. Kondisi tersebut membuat keamanan siber menjadi persoalan serius karena gangguan pada satu sistem berpotensi berdampak pada sistem lainnya.

Ilustrasi. Perkembangan AI mempermudah serangan siber, menjangkau berbagai sektor. Ahli keamanan siber perlu lebih banyak untuk memantau dan merespons ancaman ini. (Foto: istockphoto/WANAN YOSSINGKUM)

Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Dedy Permadi menilai tingkat kerentanan setiap sektor berbeda, bergantung pada kemampuan masing-masing dalam menerapkan sistem pengamanan.

Menurut Dedy, sektor perbankan memiliki sistem keamanan siber yang relatif kuat, meskipun tetap menjadi sasaran berbagai serangan karena berkaitan dengan sektor keuangan. Sebaliknya, sektor publik cenderung lebih tertinggal dalam penerapan mekanisme perlindungan.

"Sektor perbankan memiliki sistem keamanan siber yang kuat, tetapi pada saat bersamaan juga rentan karena berbagai jenis serangan biasanya menyasar sektor keuangan. Sementara itu, sektor yang cenderung tertinggal adalah sektor publik karena biasanya lebih lambat menerapkan mekanisme pengamanan," ucap Dedy.

Ia mengatakan sektor yang belum memiliki perlindungan memadai berpotensi menjadi korban serangan siber, termasuk masyarakat dan industri. Meski tingkat kesiapan berbeda, ancaman tersebut tetap perlu diantisipasi lintas sektor.