Menurut dia, paket tersebut tidak perlu dibuat terlalu kaku agar wisatawan muslim tetap dapat menikmati beragam atraksi, seperti pantai, alam, tempat wisata, belanja, kebugaran dan kesehatan (wellness), serta pengalaman kreatif.

"Jadi halal itu lebih ke service assurance (jaminan layanan), bukan pembatasan pengalaman wisata," ujar Sari.

Sari mengatakan pengembangan atraksi juga perlu tetap mengangkat karakter atau DNA destinasi yang bersifat universal, sementara layanan kepada wisatawan dibuat inklusif.

"Jadi atraksi itu bersifat universal, cuma servisnya yang menjadi inklusif," katanya.

Ia menambahkan layanan ramah muslim dapat dikembangkan melalui fasilitas pendukung, seperti fasilitas wudu yang ramah penggunaan air, layanan Ramadan, informasi waktu shalat, serta suasana yang membuat wisatawan muslim lebih nyaman.