Selain itu, informasi mengenai layanan wisata ramah Muslim perlu tersedia secara digital karena teknologi dan kecerdasan buatan (AI) semakin mempengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih perjalanan.
"Harus ada informasi halal, restoran, tempat ibadah, hotel, juga harus masuk Google Maps, harus bisa masuk dalam aplikasi agen perjalanan daring (OTA) berbasis AI," ujar Sari.
Pengembangan tersebut tidak cukup hanya melalui sertifikasi halal, tetapi juga perlu memastikan akses terhadap informasi halal (halal information accessibility) dan ketersediaannya secara digital.
"Jadi tahapannya bukan sekadar sertifikasi halal, tapi juga aksesbilitas terhadap informasi halal dan digital," katanya.
Sari menyebut pendekatan tersebut mencakup kepatuhan (compliance), jaminan kualitas (quality assurance), kepercayaan pasar (market confidence), dan daya saing (competitiveness).