NADIKABAR.COM — Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI) Angel Damayanti menilai gim daring pada dasarnya bukan pemicu utama radikalisasi, tetapi kerentanan fitur di dalamnya yang kerap disalahgunakan.

"Game online bukanlah penyebab langsung terjadinya radikalisme karena kebanyakan pemain tidak memiliki hubungan dengan ekstremisme. Risiko muncul ketika media ini dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, dan merekrut individu yang rentan seperti remaja dan anak muda," kata Angel dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Menurut Peneliti Senior pada Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI itu, kerentanan tersebut dipicu oleh interaksi sosial berulang yang membangun ikatan emosional, identitas anonim serta keleluasaan pemain dalam merancang skenario atau simbol permainan.

Pemanfaatan gim daring oleh kelompok radikal sebenarnya telah terdeteksi sejak dekade 1980-an hingga akhirnya berkembang pesat pada era digital saat ini.

Rektor UKI periode 2026-2030 itu mengungkapkan pada 2014, ISIS mulai menggunakan permainan daring seperti Call of Duty untuk mendapatkan perhatian masyarakat luas dan memulai propagandanya.

Risiko gim daring menjadi semakin besar ketika sejak 2020 permainan dapat dikustomisasi.