"Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi adanya pola rekrutmen di mana anak-anak muda diarahkan dari platform gim menuju grup pesan tertutup seperti WhatsApp atau Telegram untuk komunikasi yang lebih intensif," ungkapnya.

Ia mengatakan secara khusus, jenis gim yang terbuka dan bisa diakses secara bebas oleh berbagai tingkatan usia, mengagungkan simulasi militer atau peperangan serta memungkinkan pembuatan konten sendiri menjadi sarana yang paling rentan disusupi.

Menghadapi ancaman tersebut, kontranarasi dan perlindungan di tingkat keluarga menjadi fondasi utama. Orang tua dituntut aktif mengenali gim yang dimainkan anak, membuat aturan penggunaan perangkat digital, mengaktifkan fitur keselamatan serta membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi.

Angel juga menekankan urgensi peran keluarga dengan menyatakan bahwa penting bagi orang tua untuk memperhatikan perubahan mendadak seperti anak mulai mengisolasi diri, munculnya kebencian intens terhadap kelompok tertentu atau keterlibatan dalam komunitas yang memuja kekerasan.

Di tingkat kebijakan publik, penanganan radikalisasi digital memerlukan sinergi menyeluruh antara pemerintah, aparat, dan masyarakat. Pendekatan yang diambil tidak lagi sekadar berfokus pada pemblokiran konten, melainkan pada tata kelola keamanan digital yang berbasis risiko.

Ia menjelaskan gim daring tidak dapat dipandang sebagai ancaman secara serta merta. Gim daring adalah ruang sosial dan teknologi yang memiliki manfaat, tetapi fitur-fiturnya dapat disalahgunakan oleh kelompok ekstremis.