Karena itu, ketika ukuran yang biasa dibeli sulit ditemukan, konsumen tidak selalu merespons dengan kepanikan. Sebagian dapat memilih produk pengganti yang masih dianggap sesuai.
"Ada dua arah perpindahan yang mungkin terjadi terkait fenomena ini," jelasnya.
Pertama, konsumen dapat beralih ke ukuran kemasan lain dari merek yang sama, misalnya kemasan 10 kg. Pilihan ini memungkinkan konsumen tetap mendapatkan merek yang biasa dikonsumsi, meskipun pengeluaran dalam sekali pembelian menjadi lebih besar. Kedua, konsumen dapat beralih ke pilihan yang sebelumnya tidak dipertimbangkan, misalnya beras SPHP dari Bulog yang memiliki harga lebih terjangkau.
Ia mengatakan, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti persediaan beras nasional habis atau mengalami kekurangan. Menurutnya, persoalan yang terjadi dapat berkaitan dengan biaya produksi maupun distribusi.