Menurut Deni, karakteristik tersebut mengindikasikan kemungkinan Mesoscale Convective System (MCS), yakni sistem badai terorganisasi yang terdiri atas sejumlah sel konvektif.

Luas selubung awannya juga melampaui persyaratan luasan Mesoscale Convective Complex (MCC). Namun, kontinuitas, durasi, dan bentuk sistem belum sepenuhnya tervalidasi.

Berdasarkan rekonstruksi lintasan penerbangan, pada pukul 17.46 UTC atau sekitar tiga menit sebelum kecelakaan, pesawat berada di ketinggian sekitar 35.000 kaki atau 10,7 kilometer, di bawah selubung awan dengan suhu puncak sangat dingin.

Sistem awan tersebut secara vertikal berpotensi menjangkau atau melampaui ketinggian penerbangan. Namun, citra satelit dan reflektivitas radar tidak secara langsung memastikan intensitas turbulensi ataupun kandungan es pada posisi pesawat.

Penjelasan mengenai bahaya badai petir bagi penerbangan juga disampaikan peneliti dari University of South Florida Joseph Post.

"Bahaya tersebut berasal dari turbulensi dan lapisan es akibat badai petir. Oleh karena itu, badai petir mungkin menjadi fenomena cuaca paling berbahaya dalam dunia penerbangan," kata Post dikutip dari WFLA.

Dalam analisisnya, Deni menjelaskan arus naik atau updraft pada Cumulonimbus yang berkembang kuat dapat mengangkut tetes air superdingin dan partikel es menuju lapisan atmosfer lebih tinggi.

Pilot dan CEO Jettly Justin Crabble menjelaskan bagaimana tetes air tersebut dapat memengaruhi pesawat.