"Ketika pesawat terbang menembus awan yang mengandung tetesan air sangat dingin, tetesan tersebut dapat membeku saat bersentuhan dengan badan pesawat. Bahkan, lapisan es yang relatif tipis sekalipun dapat memengaruhi cara pesawat terbang secara signifikan, begitu pula dengan dampak turbulensi terhadap pesawat," kata Crabble kepada LADbible, Senin (2/11).

Deni menyebut akumulasi es berpotensi mengubah profil aerodinamis sayap, meningkatkan hambatan, menurunkan gaya angkat, serta mengganggu sensor.

Secara terpisah, konsentrasi kristal es di bagian atas sistem konvektif dapat menimbulkan risiko ice crystal icing, terutama pada komponen mesin dan sensor tertentu. Kondisi tersebut belum dapat dipastikan terjadi pada lintasan Learjet.

Selain pembentukan es, interaksi arus naik, arus turun, serta perubahan kecepatan dan arah angin dalam lingkungan konvektif dapat membuat pesawat bergerak naik-turun secara mendadak.

Deni menjelaskan perpindahan vertikal dapat mencapai puluhan hingga ratusan meter dalam kondisi tertentu. Namun, besarnya perpindahan pada Learjet tidak dapat ditentukan hanya dari klasifikasi turbulensi.

Awak dilaporkan mengalami turbulensi sedang. Kemungkinan turbulensi yang lebih kuat pada fase berikutnya masih merupakan hipotesis yang perlu diuji.

"Namun, apakah gangguan atmosfer berperan langsung terhadap hilangnya kendali, atau apakah terdapat keterlibatan faktor mekanis dan struktural, belum dapat dipastikan. Investigasi National Transportation Safety Board (NTSB) tetap diperlukan untuk menetapkan penyebab kecelakaan," tulis Deni.